Alergi Pada Bayi: Apa Yang Perlu Diwaspadai?

Alergi Pada Bayi: Apa Yang Perlu Diwaspadai?

Alergi pada bayi bisa beragam pemicu dan gejalanya. Apabila bayi Anda mengalami ruam dan kulitnya tidak lembut lagi seperti kulit bayi lainnya atau bayi Anda sering bersin, bisa jadi hal ini adalah tanda-tanda alergi pada si Kecil. Nah, pelajari tentang alergi pada bayi berikut ini yuk, Moms!

Alergi adalah kondisi yang umum dialami bayi dan anak-anak. Alergi merupakan reaksi yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh terpapar pada benda-benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Tubuh pun merespon dengan memproduksi antibodi berjenis immunoglobulin E (IgE), yang diprogram untuk melindungi tubuh dari bakteri, virus, dan alergen. Namun ketika antibodi ini diproduksi secara berlebihan, tubuh pun akan bereaksi pada alergen dengan menunjukkan peradangan dan pembengkakan. Hal ini dapat memicu terjadinya alergi.

 

Bisakah Bayi Alami Alergi?

Reaksi alergi pada bayi bisa terjadi karena berbagai alasan, Moms. Penyebabnya memang belum jelas. Meski begitu, perlu diingat bahwa bayi merupakan individu yang baru mengenal dunia. Karena itu, Si Kecil masih harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan berbagai hal di sekelilingnya, termasuk makanannya.

Selain itu, daya tahan tubuhnya juga masih lemah dan belum sempurna sehingga Si Kecil rentan terkena alergi. Riwayat kesehatan di dalam keluarga juga bisa berperan penting. Sebabnya, kecenderungan alergi adalah keturunan. Jadi, jika Moms dan Dads memiliki riwayat, bisa saja menurunkan sifat alergi tersebut atau mengembangkan alergi yang lain kepada si Kecil.

 

Gejala Umum Alergi

Ada beberapa gejala alergi yang paling umum terjadi. Apabila Si Kecil mengalami gejala – gejala berikut ini, ia akan merasa tidak nyaman dan rewel.

gatal gejala alergi

Gatal-gatal menjadi salah satu tanda alergi pada bayi.

  • Gatal – gatal
  • Pembengkakan
  • Ruam kemerahan
  • Gejala hidung berair seperti pilek
  • Kesulitan dalam bernapas
  • Masalah pencernaan

Mungkin sebagian dari Anda, Moms, tak menyadari gejala-gejala di atas merupakan gejala alergi. Namun, jika Moms memperkirakan gejala tersebut merupakan alergi, sebaiknya hindari alergen yang jadi pemicunya.

 

Beragam Jenis Alergi Pada Bayi

Nah, untuk lebih mengenal lagi tentang alergi, Moms perlu tahu berbagai jenis alergi berikut. Ada banyak alergi pada bayi yang lebih spesifik. Namun pada dasarnya, alergi terbagi menjadi tiga kategori berikut ini.

  1. Alergi Makanan dan Obat-obatan.

Makanan merupakan penyebab alergi paling umum terjadi pada bayi. Menurut American Academy of Allergy, Asthma, & Immunology, sekitar 6 persen anak-anak usia di bawah 2 tahun mengalami alergi makanan. Reaksi yang terkait makanan ini dimulai ketika Si Kecil mengenal makanan padat atau makanan pendamping ASI, yaitu sekitar 4—6 bulan. Meski begitu, ASI atau susu formula juga bisa menimbulkan alergi pada sebagian bayi, Moms. Karena itu, penting sekali bagi Moms untuk memperhatikan asupan makanan yang Anda konsumsi sendiri.

bayi alergi susu

Susu merupakan salah satu jenis makanan yang menjadi pemicu alergi makanan pada bayi.

Bayi dan balita bisa mengalami alergi pada jenis makanan apa saja. Reaksi alerginya pun bisa disebabkan dari satu jenis makanan saja atau bahkan lebih. Di Amerika Serikat, ada 8 jenis makanan yang menjadi pemicu alergi. Antara lain adalah susu, telur, kacang, tree nuts (seperti almond, walnut, kacang mete), kedelai, gandum, ikan, dan kerang. Sementara itu yang menjadi pemicu alergi obat, salah satunya adalah pemberian antibiotik ketika bayi sakit. Beberapa obat lain yang dijual bebas pun juga bisa memicu alergi, Moms.

Baca Juga: Alergi Dingin: Ciri – Ciri, Penyebab, dan Cara Mengobati

Biasanya, gejala alergi makanan bisa langsung muncul beberapa menit atau jam setelah mengonsumsi makanan/obat-obatan yang menjadi pemicu alergi. Gejalanya bisa ringan atau bahkan bisa mengancam kehidupan Si Kecil. Umumnya gejala yang tampak adalah ruam, gatal-gatal, mengi, hingga kesulitan bernapas.

Beberapa tanda alergi obat, seperti ruam, mungkin tidak muncul selama beberapa hari. Sementara itu, alergi makanan juga bisa mengalami tanda-tanda berikut: sakit perut, batuk, diare, gatal-gatal dan ruam pada kulit, mual dan muntah. Si Kecil juga bisa mengalami gejala ruam kemerahan di sekitar mulut, di beberapa kasus lidah dan mulut membengkak, hidung berair dan tersumbat seperti pilek, bagian wajah, lengan, dan kaki ikut membengkak. Gejala yang berat dan serius, serta dapat mengancam kehidupan bayi akibat alergi makanan adalah kondisi anafilaksis. Namun hal ini sangat jarang terjadi pada bayi.

  1. Alergi Lingkungan.

Alergi lingkungan merupakan jenis alergi karena kulit bayi menyentuh atau menghirup benda-benda asing di sekitarnya. Apalagi ketika Si Kecil sudah mulai aktif bermain di dalam ruangan ataupun luar ruangan, sekitar usia 18 bulan.

Benda-benda asing tersebut misalnya kandungan deterjen yang ada pada pakaian atau sesuatu yang terhirup, seperti debu. Bulu hewan peliharaan (anjing atau kucing), jamur, tungau, serbuk sari, sengatan/gigitan serangga, dan hal-hal lain yang ada di sekitar lingkungan bisa memicu gejala. Sampo, sabun, deterjen, dan produk pembersih lain yang sejenis juga merupakan pemicu alergi, seperti dermatitis kontak.

Gejala alergi pada bayi yang timbul adalah mata merah dan gatal, bersin, batuk, mengi (bengek), hidung berair seperti pilek, dan dadak sesak. Meski begitu, gejala alergi ini tidak biasa terjadi pada bayi. Gejala-gejala lainnya gatal-gatal, ruam, dan binti-bintil kecil yang gatal di kulit apabila terpapar dengan alergen atau sesuatu yang sensitif.

  1. Alergi Musiman.

Alergi musiman biasanya merupakan masalah alergi pada bayi dalam musim tertentu di sepanjang tahun atau lokasi tertentu. Kecenderungannya, alergen berasal dari luar ruangan, seperti dari pohon dan tanaman lain yang tumbuh di daerah tersebut. Namun biasanya yang paling menonjol adalah pada musim semi ketika jumlah serbuk sari sedang tinggi-tingginya.

Gejala yang dialami bayi adalah bersin-bersin, mata gatal, berair dan membengkak, batuk, dan hidung berair. Si Kecil juga bisa mengalami sakit pada telinga, bahkan hingga alami infeksi telinga. Apabila bayi Anda mengalami gejala-gejala seperti ini dalam setahun pada musim tertentu, bisa jadi Si Kecil mengalami alergi musiman, Moms.

Baca Juga: Manfaat Baby Cream untuk Kulit Bayi

Gejala Serius Alergi pada Bayi

Gejala yang berat dan serius, serta dapat mengancam kehidupan bayi akibat alergi adalah kondisi anafilaksis. Ini merupakan kondisi syok, yaitu ketika tekanan darah menurun secara drastis dan saluran udara menyempit sehingga kesulitan bernapas. Tanda-tandanya adalah mata, bibir, dan wajah membengkak, ruam, kulit pucat, terasa mual, muntah, kepala pusing, kesulitan bernapas, hingga tidak sadarkan diri/pingsan. Jika kondisi bayi Anda seperti ini, langsung segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang tepat dari tenaga medis atau dokter.

 

Meminimalisir Alergi pada Bayi

Untuk mendapatkan penanganan yang tepat dalam mengatasi alergi pada bayi, sebaiknya Moms konsultasikan terlebih dulu dengan dokter mengenai gejala-gejala yang ada. Bisa juga dilakukan pemeriksaan atau tes khusus, seperti tes kulit, tes darah, atau tes makanan. Hanya saja, hasil dari pemeriksaan atau tes ini agak sulit disimpulkan karena sistem kekebalan tubuh bayi belum terbentuk dengan baik.

mencegah alergi pada bayi

Bersihkan kasur dan mainan Si Kecil secara berkala untuk menghindari debu yang dapat menyebabkan alergi pada bayi

Oleh karena itu, yang dapat Moms lakukan untuk mengatasinya adalah dengan meminimalisir risiko, yaitu menghindari alergen yang menjadi pemicu alergi. Di antaranya seperti berikut ini.

  • Membersihkan kasur dan bantal Si Kecil secara berkala, lalu tutupi kasur dan bantal dengan seprai dan sarung bantal antitungau.
  • Bersihkan secara berkala benda-benda yang dapat menyimpan debu, seperti kasur, karpet, mainan, dengan vacuum.
  • Hindari Si Kecil dari hewan peliharaan, seperti anjing dan kucing, yang ada di rumah.
  • Ganti produk pembersih yang biasa dengan produk pembersih yang mengandung hypoallergenic.
  • Mengatur pola makan, baik pola makan Anda sendiri apabila Si Kecil masih menyusui maupun bayi Anda ketika ia sudah diperkenalkan makanan padat.
  • Perkenalkan jenis makanan baru pada bayi secara perlahan. Misalnya, pada minggu pertama diperkenalkan dengan telur. Jika tidak ada reaksi alergi pada bayi Anda, mulai kenalkan dengan makanan yang lain.
  • Perhatikan cuaca dan musim di wilayah Anda, Moms. Jika Si Kecil memiliki alergi musiman, kurangi bermain di luar ruangan saat musim tertentu yang memicu timbulnya alergi.
  • Hindari penggunaan sampo, sabun, deterjen yang menggunakan pewangi.
  • Janganlah merokok dekat dengan si bayi.

 

Mengobati Alergi pada Bayi

cara mengobati alergi

Konsultasikan terlebih dulu dengan dokter apabila ingin memberikan pengobatan untuk mengatasi alergi pada bayi

Sementara itu untuk pengobatan, obat yang diberikan tergantung pada jenis alerginya dan gejala yang timbul. Berikut beberapa pengobatan yang bisa dilakukan, Moms.

  • Berikan obat antihistamin untuk mengurangi reaksi alergi. Meskipun antihistamin merupakan obat yang umum untuk mengatasi alergi, namun tidak direkomendasikan untuk anak-anak usia di bawah 2 tahun. Jadi, perlu dikonsultasikan dulu dengan dokter ya, Moms.
  • Krim hidrokortison juga dapat membantu meringankan gejala-gejala alergi yang muncul di permukaan kulit, seperti ruam karena alergi. Namun, hal ini juga perlu dikonsultasikan dulu dengan dokter, Moms. Baca juga petunjuk di setiap kemasan krim hidrokortison sebelum digunakan.
  • Pemberian inhaler ketika bayi mengalami kesulitan bernapas akibat alergi dengan petunjuk/resep dari dokter.

Untuk mengatasi gejala anafilaksis yang merupakan reaksi alergi yang parah, biasanya dokter akan memberi injeksi atau suntikan EpiPen/hormon adrenalin. Suntikan ini mudah diberikan melalui kulit bayi.

 

 

TAGS: 

Artikel Lainnya

10 Cara Pilih Sabun Bayi Untuk Kulit Sensitif

10 Cara Pilih Sabun Bayi Untuk Kulit Sensitif

Mandi bisa menjadi salah satu cara untuk merawat kulit bayi agar tetap sehat. Selain itu, penting juga dalam memilih produk perlengkapan mandi, seperti sabun, yang memang dapat mendukung kesehatan kulit Si Kecil. Meski begitu, mungkin Moms sempat merasa bingung dalam...

Penyebab dan Tipe Ruam Pada Bayi

Penyebab dan Tipe Ruam Pada Bayi

Ruam pada bayi banyak penyebabnya dan tipenya pun bermacam-macam. Meski begitu, Moms tak perlu khawatir karena permasalahan ruam biasanya dapat dengan mudah diatasi. Nah, kenali dulu yuk, Moms, tentang ruam pada bayi dan tipe-tipenya berikut ini. Ruam merupakan...

Alergi Pada Bayi: Apa Yang Perlu Diwaspadai?

Alergi Pada Bayi: Apa Yang Perlu Diwaspadai?

Alergi pada bayi bisa beragam pemicu dan gejalanya. Apabila bayi Anda mengalami ruam dan kulitnya tidak lembut lagi seperti kulit bayi lainnya atau bayi Anda sering bersin, bisa jadi hal ini adalah tanda-tanda alergi pada si Kecil. Nah, pelajari tentang alergi pada...

Tanda – Tanda Iritasi Kulit dan Penyebab

Tanda – Tanda Iritasi Kulit dan Penyebab

Iritasi merupakan permasalahan kulit yang bisa muncul tanpa disadari. Biasanya iritasi kulit ditandai dengan adanya ruam kemerahan dan gatal-gatal pada kulit. Apa yang menjadi penyebabnya dan bagaimana mengatasinya? Berikut penjelasan selengkapnya!

Gangguan pada kulit seperti iritasi bisa terjadi karena ada kaitannya dengan sistem kekebalan tubuh seseorang. Iritasi kulit muncul ketika sistem imun merespon sesuatu benda asing yang menjadi pemicunya. Apalagi kulit merupakan permukaan terluar yang sensitif dan mudah terpapar dengan berbagai benda asing.

Selain itu, iritasi pada kulit juga bisa disebabkan penghalang permukaan kulit yang melemah dan terganggu sehingga membuat kulit rentan terhadap iritasi. Berbeda ketika penghalang kulit dalam kondisi sehat. Karena, penghalang kulit tersebut akan bekerja lebih efisien untuk mempertahankan kelembapan esensial dan membantu melindungi kulit.

 

Kenali Tanda-Tanda Iritasi Kulit

Tanda-tanda iritasi pada kulit adalah kulit ruam kemerahan yang bervariasi, tergantung penyebab iritasinya. Gejala ruam kemerahan juga diikuti dengan rasa gatal gatal, sensasi terbakar, ada rasa hangat/panas di area kulit yang iritasi, nyeri, bintik-bintik seperti jerawat kecil, pecah-pecah, bersisik, kulit menebal di area kulit yang terkena iritasi, hingga kulit bisa berdarah.

Siapa saja dapat terkena iritasi, mulai dari bayi yang baru lahir hingga orang dewasa. Bagian tubuh yang terkena iritasi pun bisa di mana saja, mulai dari tangan, kaki, leher, dan sebagainya. Iritasi dalam tingkat yang ringan memang tidak membahayakan dan dapat hilang dengan sendirinya. Ada pula iritasi dalam tingkat yang parah sehingga dapat membuat rasa ketidaknyamanan dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Hal itu tandanya kulit sudah butuh pertolongan. Harus cepat-cepat diatasi nih!

gambar kulit iritasi

Permukaan kulit mengalami ruam kemerahan, yang disertai bintik-bintik kecil merah, salah satu gejala iritasi kulit

Penyebab Iritasi Kulit

Pemicu yang dapat menyebabkan iritasi disebut dengan iritan. Nah, berikut beberapa penyebab iritasi kulit yang umum terjadi.

  • Gangguan sistem imun tubuh. Sistem imun tubuh yang terkadang tidak bekerja dengan baik sehingga dapat mengarahkan respon imun ke jaringan normal dan sehat. Salah satu pemicunya adalah ketika konsumsi makanan yang mengandung gluten.
  • Reaksi alergi. Hal ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh mendeteksi adanya sesuatu yang asing, kemudian ada reaksi yang berlebihan sehingga muncullah reaksi alergi. Produk perawatan kulit, seperti losion, apalagi yang beraroma, parfum, pakaian, sabun deterjen cucian, pewangi pakaian, adalah penyebab umum terjadinya reaksi alergi. Iritan lainnya yang juga dapat menimbulkan iritasi adalah poison ivy.
  • Kulit kering. Cuaca dengan kelembapan yang rendah membuat hawa di sekitar menjadi panas. Hawa panas ini dapat menyebabkan kulit menjadi kering sehingga menimbulkan iritasi.
  • Ruam atau kondisi medis tertentu yang terjadi pada kulit. Contohnya, eksim, kudis, cacar air. Kondisi gangguan kulit ini akan menyebabkan kulit menjadi gatal dan kemerahan.
  • Penyakit tertentu. Penyakit ginjal dan hati, masalah gangguan pada tiroid, atau kekurangan zat besi dapat menimbulkan gatal-gatal di sekujur tubuh.
  • Adanya gangguan pada saraf.
  • Infeksi disebabkan bakteri, jamur, dan virus juga dapat membuat iritasi, seperti yang terjadi pada penyakit eksim.
  • Obat-obatan tertentu. Pengobatan antibiotik dan antijamur terkadang dapat menyebabkan terjadi reaksi pada kulit.

Baca Juga: Dermatitis Kontak? Perbedaan Dermatitis Kontak Alergi dan Iritan

Perawatan Alami untuk Iritasi Kulit

Pada umumnya, iritasi yang ringan dapat diatasi sendiri dengan melakukan perawatan secara alami. Ada beberapa cara alami yang bisa dilakukan untuk meredakan iritasi pada kulit. Berikut ini beberapa di antaranya yang bisa dicoba di rumah.

  • Kompres air dingin. Area yang terkena iritasi dapat diredakan dengan mengompres air dingin. Kain atau handuk bersih yang sudah dibasahi dengan air dingin, lalu kompres ke area kulit yang mengalami iritasi tersebut. Bisa juga mengompres area kulit tersebut dengan ice pack atau es batu yang sudah dilapisi dengan kain. Ketika mandi, dapat menggunakan sabun hypoallergenic yang dapat meredakan gejala-gejala.
  •  

  • Masker Oatmeal. Di dalam oatmeal terkandung bahan-bahan yang istimewa bernama avenanthramides. Bahan ini merupakan zat antioksidan dan zat antiradang dapat menghalangi kulit melepaskan senyawa peradangan sehingga dapat mengurangi rasa gatal atau sensasi terbakar. Selain itu, oatmeal juga mengandung humektan yang dapat melembapkan kulit.
    oatmeal

    oatmeal adalah bahan alami mengatasi iritasi kulit

    Cara membuatnya mudah, hanya dengan mencampurkan oatmeal dengan air hingga menjadi pasta. Kemudian pasta oatmeal tersebut dioleskan pada permukaan kulit yang mengalami iritasi. Mandi dengan campuran oatmeal dan air hangat juga dapat meredakan eksim dan psoriasis.

  •  

  • Baking Soda. Bahan yang dapat dengan mudah ditemukan di dapur ini mampu mengatasi berbagai kondisi permasalahan pada kulit, termasuk iritasi. Baking soda yang mengandung zat antijamur mampu meredakan gatal-gatal pada area kulit yang iritasi. Biasanya iritasi pada kulit yang disebabkan gigitan serangga.Larutkan baking soda dengan sedikit air, kemudian oleskan pada area kulit yang gatal-gatal karena iritasi. Cara lainnya, bisa juga dengan menuangkan ½ cangkir baking soda ke dalam bak air mandi untuk merendam seluruh tubuh.
  •  

  • Minyak Kelapa Murni. Minyak kelapa murni ini dapat meredakan iritasi, terutama bagi kulit yang mengalami eksim. Oleskan minyak kelapa pada area kulit yang kering dan bersisik agar area kulit tersebut menjadi lembap dan kelembapannya dapat bertahan lama.
  • Cuka Apel. Reaksi alergi sebagai salah satu penyebab iritasi, seperti kulit kering dan kulit gatal, dapat diredakan dengan cuka sari apel. Sebabnya, dalam cuka sari apel terdapat antiseptik dan antijamur yang mampu meringankan infeksi pada kulit. Selain  itu, cuka sari apel juga membantu melembapkan kulit yang kering.
  • Lidah Buaya. Lidah buaya segar yang dioleskan pada bagian kulit yang teriritasi berkhasiat meredakan kulit yang terbakar matahari, kemerahan, gatal, dan bengkak. Jika di rumah memiliki produk lidah buaya dalam kemasan, sebelum dioleskan pada kulit sebaiknya didinginkan terlebih dulu di dalam lemari es.

 Baca Juga: Eksim Kering: Gejala, Jenis, dan Cara Mengobati

Pengobatan Medis Untuk Iritasi Kulit

Iritasi juga dapat diatasi dengan pengobatan secara medis. Berikut ini ada beberapa rekomendasi obat untuk kulit iritasi.

  • Obat topikal. Pengobatan topikal merupakan pengobatan yang dapat langsung diaplikasikan di kulit. Pengobatan jenis ini termasuk hidrokortison yang dapat mengatasi kulit iritasi dan kering, serta gatal-gatal dan kemerahan akibat dari reaksi alergi, eksim, dan psoriasis. Gunakan salep hidrokortison selama dua minggu untuk mengobati penyakit kulit ini.

     

    Ada pula calamine yang dapat membantu meredakan gejala iritasi seperti ruam dan gatal-gatal pada kulit akibat gigitan serangga dan poison ivy. Obat iritasi kulit lainnya adalah pramoxine. Dengan kandungan hidrokortison dan bahan aktif lainnya, pramoxine efektif membantu mengatasi gejala iritasi yang ringan.

  •  

  • Obat Oral. Sementara itu, untuk pengobatan oral yang dapat mengatasi iritasi sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter. Biasanya dokter meresepkan antihistamin generik sebagai pengobatan akibat reaksi alergi. Antihistamin ini juga sebagai obat antibiotik dan antijamur berbentuk tablet untuk mengatasi infeksi bakteri. Untuk mengatasi iritasi yang parah seperti psoriasis, dermatologis atau ahli penyakit kulit menyarankan untuk melakukan suntikan.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika gejala-gejala iritasi kulit yang dialami semakin parah dan sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya langsung kunjungi dokter ahli penyakit kulit. Ciri-cirinya ketika ruam muncul secara tiba-tiba dan menyebar dengan cepat di sekujur tubuh. Ketika ruam muncul disertai dengan demam, kemudian kulit seperti melepuh dan terasa nyeri. Area kulit yang mengalami iritasi juga terinfeksi dengan gejala mengeluarkan nanah, pembengkakan, dan goresan merah yang berasal dari ruam.

 

 

TAGS:

Artikel Lainnya

10 Cara Pilih Sabun Bayi Untuk Kulit Sensitif

10 Cara Pilih Sabun Bayi Untuk Kulit Sensitif

Mandi bisa menjadi salah satu cara untuk merawat kulit bayi agar tetap sehat. Selain itu, penting juga dalam memilih produk perlengkapan mandi, seperti sabun, yang memang dapat mendukung kesehatan kulit Si Kecil. Meski begitu, mungkin Moms sempat merasa bingung dalam...

Penyebab dan Tipe Ruam Pada Bayi

Penyebab dan Tipe Ruam Pada Bayi

Ruam pada bayi banyak penyebabnya dan tipenya pun bermacam-macam. Meski begitu, Moms tak perlu khawatir karena permasalahan ruam biasanya dapat dengan mudah diatasi. Nah, kenali dulu yuk, Moms, tentang ruam pada bayi dan tipe-tipenya berikut ini. Ruam merupakan...

Alergi Pada Bayi: Apa Yang Perlu Diwaspadai?

Alergi Pada Bayi: Apa Yang Perlu Diwaspadai?

Alergi pada bayi bisa beragam pemicu dan gejalanya. Apabila bayi Anda mengalami ruam dan kulitnya tidak lembut lagi seperti kulit bayi lainnya atau bayi Anda sering bersin, bisa jadi hal ini adalah tanda-tanda alergi pada si Kecil. Nah, pelajari tentang alergi pada...

9+ Cara Mengatasi Alergi Debu Pada Kulit

9+ Cara Mengatasi Alergi Debu Pada Kulit

Alergi debu merupakan reaksi tubuh yang terjadi ketika seseorang menghirup atau terpapar partikel-partikel debu yang ada di lingkungan di dalam rumah. Alergi bisa terjadi pada siapa saja, mulai dari bayi, anak-anak, hingga orang dewasa.

Penyebab alergi bisa bermacam-macam. Tak hanya makanan, lingkungan di dalam rumah pun dapat menjadi pemicu seseorang mengalami alergi. Salah satu pemicu alergi yang berasal dari lingkungan rumah adalah debu. Karena biasanya, partikel-partikel debu paling banyak ditemukan di dalam rumah.

Saat sedang membersihkan atau mengibas-ngibaskan perabot rumah, seperti seprai, bantal, atau kain, akan muncul debu ketika tersorot sinar matahari. Debu inilah yang bisa menjadi alergen atau pemicu alergi di dalam ruangan sehingga menimbulkan reaksi alergi.

Karena itu, ketika seseorang memiliki alergi dan hipersensitif terhadap debu, lalu menghirup atau terpapar udara yang bercampur dengan partikel-partikel debu, pertahanan tubuhnya akan bereaksi. Sistem imun tubuhnya bereaksi pada zat protein yang ada di dalam partikel debu tersebut dan menganggapnya sebagai zat-zat berbahaya yang harus dilawan. Akhirnya, timbullah reaksi berupa gejala-gejala.

 

Partikel Kecil Debu Sebabkan Alergi Debu

                 Pemicu alergi yang dimaksud di sini bukan hanya debu saja ya. Tetapi, ada zat-zat lain yang terdapat dalam partikel-partikel debu tersebut. Zat-zat lain itu terbentuk dari sel-sel kulit mati manusia, makhluk hidup kecil yang tak dapat dilihat mata, juga dari serangga. Berikut ini beberapa zat-zat yang ada di dalam partikel debu.

penyebab alergi debu

Gambaran tungau, salah satu pencetus alergi debu

  • Tungau Debu. Menurut American College of Allergy, Asthma, and Immunology, tungau debu adalah pemicu alergi/alergen di dalam ruangan yang paling umum. Sebabnya, tungau debu banyak ditemukan di dalam rumah. Antara lain ada di bantal, kasur, seprai, karpet, dan lapisan kain yang menutupi furnitur di rumah. Makhluk mikroskopis ini bisa hidup dan tumbuh subur di tempat yang lembap, hangat, dan jarang terkena sinar matahari. Kira-kira di ruangan dengan temperatur antara 20—25 derajat celcius dan kelembapan antara 70%–80%.
     
    Dalam partikel-partikel debu terdapat kotoran dan tubuh tungau debu yang membusuk. Partikel tungau debu yang sangat kecil ini akan beterbangan di udara ketika Anda mengeringkan dan membersihkan tempat tidur dengan vakum, berjalan di atas karpet atau menyedot debu pada karpet. Zat protein yang ada dalam serpihan-serpihan tungau debu inilah yang menjadi penyebab alergi debu apabila terhirup atau tersentuh kulit.
  • Spora. Partikel debu lainnya adalah partikel jamur kecil dan spora yang hidup di tempat lembap, seperti di kamar mandi dan dapur. Partikel-partikel jamur dan spora itu bisa melayang-layang di udara sehingga jika terhirup atau tersentuh pada orang yang sensitif pada debu akan menimbulkan gejala.
  • Kecoa. Ada lagi partikel debu lainnya yang menyebabkan alergi, antara lain serangga seperti kecoa. Beberapa orang akan langsung muncul gejala-gejala alergi ketika berada di dekat kecoa. Partikel-partikel kecil dari kecoa adalah komponen umum dalam debu yang ada di rumah, yang bisa menjadi penyebab.
  • Serbuk sari. Serbuk sari yang berasal dari pepohonan, bunga, rumput, dan gulma juga dapat menjadi pemicu. Namun, setiap orang memiliki reaksi alergi terhadap berbagai jenis serbuk sari yang berbeda.
  • Rambut dan bulu-bulu halus hewan peliharaan. Hewan peliharaan di rumah, seperti kucing dan anjing, bisa menimbulkan masalah alergi pada seseorang. Serpihan kulit mati, air liur, dan urine dari hewan peliharaan di rumah dapat memicu reaksi alergi, apalagi ketika bercampur dengan partikel debu di udara yang ada di rumah.

 

Gejala Alergi Debu

Bagaimana reaksi tubuh ketika alergi terjadi? Ketika seseorang mengalami reaksi, gejala pada umumnya akan berkaitan dengan saluran pernapasan, mulai dari hidung hingga paru-paru. Antara lain adalah bersin-bersin, hidung tersumbat, hidung meler, mata memerah, berair, dan gatal, batuk, sesak napas, tenggorokan gatal, sesak di bagian dada. Alergi debu, terutama karena tungau debu, dapat menyebabkan gejala seperti infeksi sinus dan serangan asma.

Reaksi juga dapat terjadi pada permukaan kulit. Apabila kulit tersentuh atau terpapar partikel-partikel debu tersebut, akan muncul gejala kulit memerah, ruam-ruam, dan gatal-gatal.

Baca Juga: Penyebab Gatal Alergi dan Cara Menangani Pada Kulit

Gejala tersebut akan muncul ketika Anda membersihkan debu pada perabotan, menyedot debu, atau menyapu di dalam rumah.

 

Siapa yang Berisiko?

Setiap orang dapat berisiko mengalami alergi debu. Mulai dari rentang usia bayi, anak-anak, hingga orang dewasa. Namun, bayi dan anak-anak adalah yang paling rentan mengalami alergi ini. Sebabnya, sistem imun bayi dan anak-anak belum terbentuk dengan sempurna. Apalagi bayi dan anak-anak aktivitasnya lebih banyak di sekitar tempat tidur, jadi Moms harus waspada.

Seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan alergi debu atau jenis alergi lainnya, juga dapat berisiko. Risiko tinggi terkena bisa dialami ketika seseorang juga memiliki riwayat kesehatan seperti asma.

 

Cara Mengatasi Alergi Debu

Langkah utama agar terhindari dari reaksi alergi debu adalah dengan menjauhkan diri dari debu.

Anda juga dapat melakukan beberapa hal berikut ini untuk mengurangi paparan debu di dalam rumah. Dengan begitu, Anda atau anggota keluarga yang memiliki alergi atau sensitif pada debu dapat terhindar dari gejala-gejala.

cara mengatasi alergi debu

Bersih-bersih rumah dan segala perabotannya secara berkala dapat meminimalisir partikel-partikel debu di dalam rumah

  • Bersihkan segala perabotan dan furnitur di rumah, serta ruangan di rumah secara berkala menggunakan vakum khusus dengan filter HEPA.
  • Bersihkan dan cuci secara rutin untuk kain, seprei, selimut, karpet, dan tirai gorden dengan air panas. Jangan lupa untuk menggantinya secara berkala.
  • Gunakan penyedot debu khusus tungau untuk membersihkan kasur dan bantal. Lalu, gunakan lapisan “mite-proof” untuk menutupi kasur dan bantal.
  • Gunakan alat filter HEPA untuk membersihkan dan mengeringkan udara di kamar tidur.
  • Gunakan humidifier agar dapat menciptakan kualitas udara yang baik dan menjaga kelembapan udara di dalam ruangan. Anda dapat menggunakannya di ruang tidur anak/bayi
  • Jika memiliki hewan peliharaan di rumah, sebaiknya Anda atau anggota keluarga yang memiliki alergi harus jaga jarak dulu dari hewan peliharaan. Letakkan kandangnya di luar rumah dan hindari hewan peliharaan masuk ke dalam kamar tidur.
  • Apabila serangga kecoa yang menjadi masalah alergi, sebaiknya langsung hubungi layanan pest control profesional agar bisa diatasi.
  • Kumpulkan dan simpan mainan anak-anak di tempat khusus dan letakkan di luar kamar tidur anak agar tidak berpotensi menjad tempat berkumpulnya debu.
  • Ketika sedang membersihkan rumah, sebaiknya anggota keluarga yang rentan pada alergi, untuk sementara berada di luar rumah agar partikel-partikel debu yang melayang di udara tidak terhirup atau terpapar. Apabila Anda sendiri yang rentan terhadap alergi, namun tetap harus membersihkan rumah, sebaiknya gunakan masker khusus, seperti masker N-95.

 

Cara Mengobati Alergi Debu

Apabila tindakan preventif dengan mengurangi paparan debu di dalam rumah sudah dilakukan, namun masih tetap menimbulkan reaksi, sebaiknya Anda konsultasikan dengan dokter. Bertemu dengan dokter, Anda juga dapat memastikan apakah gejala-gejala yang muncul tersebut merupakan akibat dari alergi atau flu. Tentunya, dengan mengikuti serangkaian tes alergi yang dianjurkan oleh dokter.

Apabila reaksi tubuh Anda benar karena alergi debu, dokter biasanya akan memberi resep obat untuk mengurangi gejala-gejala yang mungkin terjadi. Dekongestan dan Antihistamin adalah obat yang paling umum untuk mengatasi gejala-gejala akibat alergi tersebut. Kedua pengobatan ini dapat mengurangi gejala yang timbul, seperti hidung tersumbat, hidung meler, bersin-bersin, gatal-gatal, bengkak, hingga sesak napas. Jenis serta dosis untuk kedua obat ini sebaiknya mengikuti saran dokter. Dokter akan memberi dosis yang sesuai dengan tingkat gejala dan kondisi tersebut.

Selain itu, pengobatan lain yang dapat mengurangi gejala alergi debu adalah kortikosteroid yang dapat meredakan peradangan di hidung, seperti hidung tersumbat, pilek, bersin, dan gatal. Apabila pengobatan belum berhasil, bisa dilakukan imunoterapi agar Anda dapat menoleransi partikel-partikel debu yang menimbulkan alergi. Imunoterapi bisa dilakukan dengan cara disuntik atau oral.

 

 

TAGS: 

Artikel Lainnya

10 Cara Pilih Sabun Bayi Untuk Kulit Sensitif

10 Cara Pilih Sabun Bayi Untuk Kulit Sensitif

Mandi bisa menjadi salah satu cara untuk merawat kulit bayi agar tetap sehat. Selain itu, penting juga dalam memilih produk perlengkapan mandi, seperti sabun, yang memang dapat mendukung kesehatan kulit Si Kecil. Meski begitu, mungkin Moms sempat merasa bingung dalam...

Penyebab dan Tipe Ruam Pada Bayi

Penyebab dan Tipe Ruam Pada Bayi

Ruam pada bayi banyak penyebabnya dan tipenya pun bermacam-macam. Meski begitu, Moms tak perlu khawatir karena permasalahan ruam biasanya dapat dengan mudah diatasi. Nah, kenali dulu yuk, Moms, tentang ruam pada bayi dan tipe-tipenya berikut ini. Ruam merupakan...

Alergi Pada Bayi: Apa Yang Perlu Diwaspadai?

Alergi Pada Bayi: Apa Yang Perlu Diwaspadai?

Alergi pada bayi bisa beragam pemicu dan gejalanya. Apabila bayi Anda mengalami ruam dan kulitnya tidak lembut lagi seperti kulit bayi lainnya atau bayi Anda sering bersin, bisa jadi hal ini adalah tanda-tanda alergi pada si Kecil. Nah, pelajari tentang alergi pada...

Jangan Panik, Begini Cara Mengatasi Bintik Merah pada Bayi

Jangan Panik, Begini Cara Mengatasi Bintik Merah pada Bayi

Bintik merah pada bayi bisa jadi merupakan tanda iritasi atau radang. Masalah kulit ini bisa membuat bayi merasa tidak nyaman dan akhirnya jadi rewel. Oleh karena itu, Moms perlu mengetahui cara mengatasi bintik merah ini agar tidak mengganggu Si Kecil atau bertambah parah.

Munculnya bintik merah atau ruam pada bayi memang umum terjadi. Pasalnya, kulit bayi masih tipis dan sensitif sehingga rentan mengalami gangguan. Bintik merah pada kulit bayi bisa merupakan tanda dari beragam kondisi, misalnya alergi, biang keringat, eksim, iritasi, milia, hingga infeksi bakteri.

Cara Mengatasi Bintik Merah pada Bayi

Bintik merah pada bayi perlu diatasi sesuai dengan penyebabnya. Namun, Moms juga perlu menjaga kesehatan kulit Si Kecil secara menyeluruh untuk membantu meredakan keluhan dan mempercepat proses penyembuhan. Untuk itu, Moms dapat melakukan perawatan sederhana berikut ini:

cara mengatasi bintik merah pada bayi

4 Cara Mengatasi Bintik Merah Pada Bayi Secara Alami

1. Menjaga kebersihan kulit bayi

Kulit yang bintik-bintik merah biasanya menandakan adanya radang atau iritasi. Pada keadaan ini, kulit akan lebih rentan terhadap infeksi. Agar bintik merah tidak bertambah banyak dan parah karena infeksi, jagalah selalu kebersihan kulit bayi.

Caranya cukup sederhana, yaitu dengan memandikan Si Kecil secara teratur dengan air yang agak hangat dan sabun khusus bayi yang bahannya lembut. Sabuni Si Kecil mulai dari wajah, belakang telinga, dan leher, kemudian ketiak, tangan, badan, punggung, kelamin, hingga jari-jari kakinya.

Nah, untuk area kulit yang terdapat bintik merah, sabuni bagian tersebut secara perlahan dan jangan menggosoknya, agar kulit Si Kecil tidak terluka dan bintik merahnya tidak bertambah parah. Bilas tubuh Si Kecil hingga bersih, kemudian keringkan dengan menepuk-nepukkan handuk secara lembut.

2. Mengoleskan pelembab

Setelah tubuh Si Kecil kering, oleskan baby lotion, termasuk pada area kulit yang terdapat bintik merah. Baby lotion dapat menjaga kelembapan kulit bayi, sekaligus mencegah bintik merah bertambah parah.

Pilihlah baby lotion dengan kandungan bahan yang lembut, seperti susu dan chamomile yang dapat meredakan peradangan pada kulit. Kedua bahan tersebut juga baik untuk memelihara kesehatan kulit bayi.

Susu mengandung dua vitamin penting yang dapat memelihara kesehatan kulit, yaitu vitamin A dan vitamin B12. Vitamin A pada susu bermanfaat untuk menjaga kelembapan kulit dan mencegah rasa gatal, sementara vitamin B12 dapat meringankan gejala eksim yang merupakan penyebab tersering munculnya bintik merah pada bayi.

Peranan chamomile juga tidak bisa disepelekan. Losion bayi yang mengandung ekstrak bunga ini dikatakan mampu melembapkan sekaligus mengurangi peradangan pada kulit, termasuk peradangan yang menyebabkan munculnya bintik merah di kulit bayi.

3. Mengompres dengan kompres dingin

Bintik merah yang disertai radang dapat menimbulkan rasa panas, gatal, bahkan nyeri di kulit. Untuk meredakannya, Moms bisa mengompres kulit Si Kecil yang mengalami bintik merah dengan kompres dingin. Kompres dingin mampu meringankan rasa gatal, pembengkakan, ruam, dan rasa tidak nyaman akibat radang pada kulit.

Caranya, bungkus es batu dengan handuk atau kain, lalu tempelkan ke kulit Si Kecil. Ingat, jangan menempelkan es batu langsung ke kulit Si Kecil, ya.

Baca Juga: Cara Memijat Bayi Baru Lahir Yang Benar 

4. Mengoleskan minyak kelapa murni

Jika di rumah ada minyak kelapa murni (virgin coconut oil), Moms bisa memanfaatkannya sebagai obat untuk mengatasi bintik merah pada bayi. Caranya juga sangat mudah, yaitu dengan mengoleskan minyak ini ke bagian kulit yang mengalami bintik merah.

Minyak kelapa murni memiliki sifat antivirus dan antibakteri, sehingga dapat meredakan peradangan pada kulit akibat infeksi. Selain itu, minyak kelapa juga mampu melembapkan kulit bayi.

Meski begitu, sebagian bayi mungkin alergi terhadap minyak kelapa, lho, Moms. Oleh karena itu, coba oleskan minyak ini sedikit dulu ke lengan bagian dalam Si Kecil. Jika dalam waktu 24 jam tidak terjadi reaksi alergi, barulah Moms mengoleskannya ke area kulit Si Kecil yang mengalami bintik merah dan ke area kulit lainnya.

Bintik merah pada bayi merupakan masalah yang cukup sering terjadi. Meski umumnya tidak berbahaya, kondisi ini bisa membuat bayi menjadi rewel dan menimbulkan masalah lain pada kulitnya, seperti luka atau infeksi.

 

Untuk mencegah bintik merah pada bayi, rawatlah kulit bayi dengan baik dan jaga kelembapannya. Hindarkan kulit bayi dari paparan sinar matahari yang berlebihan dan gunakan produk perawatan khusus bayi yang aman untuk kulit sensitifnya.

Perhatikan juga bila ada produk perawatan kulit atau makanan tertentu yang menyebabkan munculnya bintik merah pada bayi. Jika bintik merah ini tidak kunjung sembuh atau justru bertambah parah, sebaiknya segera periksakan ke dokter.

 

 

TAGS:

Artikel Lainnya

10 Cara Pilih Sabun Bayi Untuk Kulit Sensitif

10 Cara Pilih Sabun Bayi Untuk Kulit Sensitif

Mandi bisa menjadi salah satu cara untuk merawat kulit bayi agar tetap sehat. Selain itu, penting juga dalam memilih produk perlengkapan mandi, seperti sabun, yang memang dapat mendukung kesehatan kulit Si Kecil. Meski begitu, mungkin Moms sempat merasa bingung dalam...

Penyebab dan Tipe Ruam Pada Bayi

Penyebab dan Tipe Ruam Pada Bayi

Ruam pada bayi banyak penyebabnya dan tipenya pun bermacam-macam. Meski begitu, Moms tak perlu khawatir karena permasalahan ruam biasanya dapat dengan mudah diatasi. Nah, kenali dulu yuk, Moms, tentang ruam pada bayi dan tipe-tipenya berikut ini. Ruam merupakan...

Alergi Pada Bayi: Apa Yang Perlu Diwaspadai?

Alergi Pada Bayi: Apa Yang Perlu Diwaspadai?

Alergi pada bayi bisa beragam pemicu dan gejalanya. Apabila bayi Anda mengalami ruam dan kulitnya tidak lembut lagi seperti kulit bayi lainnya atau bayi Anda sering bersin, bisa jadi hal ini adalah tanda-tanda alergi pada si Kecil. Nah, pelajari tentang alergi pada...

Penyebab Gatal Alergi dan Cara Menangani Pada Kulit

Penyebab Gatal Alergi dan Cara Menangani Pada Kulit

Alergi pada kulit dapat terjadi pada siapa saja. Mulai dari orang dewasa hingga si Kecil bisa juga terkena alergi. Penyebabnya sangatlah bermacam – macam. Apalagi daya tahan tubuh si Kecil masih rentan. Reaksi alergi yang dialami ialah dengan munculnya gatal-gatal pada kulit. Supaya dapat menyembuhkan alergi kulit, kenali penyebab dan cara mengatasi Agar dapat menghindarinya.

gatal alergi

Alergi dapat menimbulkan reaksi gejala gatal-gatal di tubuh karena pelepasan histamin yang berlebihan.

 

Alergi adalah sebuah kondisi yang umum terjadi pada setiap individu, mulai dari bayi, balita, anak-anak hingga orang dewasa. Alergi dapat terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap zat asing. Ketika si Kecil mengalami alergi, sistem kekebalan tubuhnya akan memproduksi antibodi bernama immunoglobulin E (IgE) yang akan mengidentifikasi zat-zat asing yang dapat membahayakan. Zat-zat asing yang memicu alergi atau yang disebut dengan alergen tersebut bisa bermacam-macam.

 

Jika tubuh si Kecil beberapa kali terpapar alergen, antibodi akan melepaskan sejumlah bahan kimia dari sistem kekebalan tubuhnya, seperti histamin, menuju pembuluh darah untuk melawan alergen yang dianggap “musuh”. Pelepasan bahan-bahan kimia inilah yang akan memicu timbulnya berbagai macam gejala, tergantung dari zat pemicunya. Alergi dapat terjadi pada beberapa bagian tubuh, seperti mata, hidung, paru-paru, kulit, dan saluran pencernaan. Tingkatan gejalanya pun ada yang ringan, sedang, hingga berat.

 

Apa Penyebab Kulit Gatal-Gatal?

Gatal Karena Alergi

 

Reaksi alergi pada kulit adalah yang paling umum terjadi pada bayi dan balita. Alergi pada kulit terjadi ketika permukaan kulit si Kecil kontak dengan alergen sehingga mengganggu sistem kekebalan di dalam tubuh. Bisa juga karena si Kecil mengkonsumsi makanan yang bersifat allergen atau menghirup bahan alergen melalui udara. Alhasil, permukaan kulit pun akan mengalami gejala alergi seperti gatal, kering atau ruam kemerahan.

 

Gatal pada permukaan kulit merupakan salah satu gejala yang muncul ketika si Kecil mengalami alergi. Gejala ini timbul karena sistem kekebalan tubuh melepaskan histamin yang berlebihan. Histamin inilah yang berperan menimbulkan rasa gatal. Gejala ini dapat dirasakan ketika kondisi kulit mengalami permasalahan akibat alergi, berikut beberapa di antaranya, Moms.

 

  • Eksim/dermatitis atopik. Kondisi kulit yang umum terjadi pada anak-anak, termasuk bayi, apalagi jika si Kecil memiliki asma, alergi pada makanan tertentu, dan alergi serbuk sari bunga. Gejalanya, kulit si Kecil akan mengalami ruam di bagian wajah dan kepala hingga ke area dada dan lengan dengan kondisi kulit yang kering, iritasi, dan gatal. Ketika gatal menyerang, si Kecil akan menggaruk, tetapi hal ini malah membuat kulit semakin gatal.
  • Dermatitis kontak. Kondisi kulit ini timbul setelah si Kecil terpapar zat asing yang memicu alergen secara langsung. Reaksi dari alergi dapat memunculkan gejala-gejala seperti kulit memerah, bentol, bersisik, dan terasa gatal.
  • Urtikaria. Kondisi kulit berupa ruam-ruam merah dan bentol-bentol berukuran kecil atau besar yang disertai rasa gatal dan terjadi karena adanya reaksi alergi. Kondisi ini dikenal juga dengan biduran.
  • Pembengkakan (angioederma). Kondisi yang menampakkan kulit dengan bekas merah, pembengkakan atau bercak, dengan berbagai ukuran karena alergi. Kondisi kulit ini akan tiba-tiba muncul dan menghilang pada bagian dalam kulit sekitar mata, mulut, tenggorokan, dan alat kelamin, tetapi tidak berbahaya. Hanya saja kondisi ini dapat menyebabkan gatal-gatal di kulit. Biasanya muncul bersamaan dengan urtikaria.

 

Penyebab Gatal dari Zat – Zat Asing atau Allergen

Reaksi alergi yang menyebabkan munculnya permasalahan pada kulit hingga timbul gejala seperti gatal-gatal ini biasanya muncul setelah beberapa kali kontak dengan alergen  dan berbeda-beda pada setiap individu, ada yang mucul dalam hitungan jam bahkan ada yang muncul setelah beberapa hari setelah kontak ulang dengan allergen.

gatal gatal

Makanan tertentu dapat menimbulkan gatal alergi pada si Kecil.

Zat-zat asing atau allergen yang menjadi penyebab timbulnya gatal adalah:

  • nikel, bahan logam yang biasa digunakan untuk lapisan perhiasan dan kancing jeans, kosmetik, losion, sabun, dan sampo;
  • makanan tertentu, seperti kacang, susu, dan sebagainya;
  • tabir surya dan obat antiserangga semprot;
  • obat-obatan yang dioleskan di permukaan kulit, seperti obat antibiotik dan krim antigatal;
  • pengharum/parfum;
  • produk pembersih, seperti sabun atau deterjen;
  • lateks, bahan yang digunakan untuk membuat sarung tangan, pakaian, dan balon;
  • tungau debu, serbuk sari;
  • bahan-bahan kimia, seperti pewarna.

 

Cara Mengatasi Gatal dan Alergi Pada Kulit

Kondisi kulit yang bermasalah karena alergi  dapat  mengganggu aktivitas si Kecil, Moms. Sebab  gejala ini akan memunculkan masalah baru, yaitu datangnya siklus gatal-garuk yang memperburuk kondisi kulit si Kecil. Meski begitu, Moms dapat mengatasi gejala alergi kulit dengan tips berikut ini.

  • Ketahui pemicu gatal dan hindari. Carilah penyebab yang memicu alergi si Kecil, Moms. Misalnya, sabun, deterjen, atau losion beraroma, yang biasanya membuat kulit si Kecil iritasi. Jika sudah diketahui pemicunya, hindari alergen tersebut.
  • Tes Alergi. Untuk mengetahui penyebabnya, Moms dapat melakukan tes melalui bantuan dokter ahli. Dokter ahli akan melakukan tes dengan mengenalkan sejumlah alergen ke dalam kulit si Kecil. Jika timbul suatu reaksi, kemungkinan si Kecil memiliki alergi terhadap zat tersebut.
  • Kurangi menggaruk. Aksi menggaruk memang tidak bisa dihindari ketika gatal menyerang. Namun ketika si Kecil makin menggaruk, kulit akan semakin gatal. Hal ini akan memperparah kondisi kulitnya, seperti iritasi dan infeksi. Untuk meredakannya, Moms dapat mengompres dengan air dingin pada area yang gatal. Sementara untuk menghindari semakin parah, Moms dapat menutup area tubuh si Kecil yang gatal itu, memoalergitong kuku si Kecil, menggunakan sarung tangan lembut untuk si Kecil. Hindari pakaian yang berbahan kasar yang bisa membuat kulitnya bertambah gatal.
  • Gunakan produk pembersih pakaian khusus untuk bayi/kulit sensitive . Agar terhindar dari alergen, Moms dapat menggunakan produk pembersih berlab hypoallergenic.
  •  

  • Mandi. Saat mandi, gunakan air hangat dan gunakan pembersih yang memiliki pH seimbang. atau  Moms bisa juga menggunakan produk mandi yang mengandung oatmeal, seperti produk Cussons Baby Sensicare Gentle Hair & Body Wash. Sabun mandi yang diformulasikan secara khusus dan teruji secara klinis dapat digunakan untuk bayi baru lahir, kulit sensitive dan kulit rentan eksim serta dapat digunakan untuk  area tubuh, rambut dan wajah si kecil.

    Kandungan bahan-bahan organiknya, seperti oat organik, minyak zaitun organik, minyak argan, dan ceramide akan membantu melindungi kulit dan tetap menjaga keseimbangan kelembapan kulit si Kecil. Rambut si Kecil pun tetap terawat dan terjaga kelembabannya. Pembersih yang khusus diciptakan untuk kulit si Kecil yang rentan eksim ini juga sudah teruji secara dermatologi dan hypoallergenic .
  •  

  • Lembapkan kulit usai mandi. Penggunaan pelembap usai mandi dapat menghindari kulit si Kecil dari kulit kering yang bisa menimbulkan gatal. Gunakan pelembap berlabel hypollaergenic, seperti Cussons Baby Sensicare 24hr Daily Moisturizing Lotion.

    Pelembap yang mudah diserap ini akan menjaga kulit si Kecil yang tipis dan rentan eksim tetap terpelihara dengan baik.Sebab, produk ini teruji secara klinis mampu memberikan kelembaban pada kulit hingga 24 jam. Dengan kandungan bahan-bahan organik di dalamnya, seperti oat organik, minyak zaitun organik, shea butter, dan ceramide, losion ini membantu membuat kulit si Kecil tetap sehat dan nyaman sepanjang hari.

 

 

TAGS: 

Artikel Lainnya

10 Cara Pilih Sabun Bayi Untuk Kulit Sensitif

10 Cara Pilih Sabun Bayi Untuk Kulit Sensitif

Mandi bisa menjadi salah satu cara untuk merawat kulit bayi agar tetap sehat. Selain itu, penting juga dalam memilih produk perlengkapan mandi, seperti sabun, yang memang dapat mendukung kesehatan kulit Si Kecil. Meski begitu, mungkin Moms sempat merasa bingung dalam...

Penyebab dan Tipe Ruam Pada Bayi

Penyebab dan Tipe Ruam Pada Bayi

Ruam pada bayi banyak penyebabnya dan tipenya pun bermacam-macam. Meski begitu, Moms tak perlu khawatir karena permasalahan ruam biasanya dapat dengan mudah diatasi. Nah, kenali dulu yuk, Moms, tentang ruam pada bayi dan tipe-tipenya berikut ini. Ruam merupakan...

Alergi Pada Bayi: Apa Yang Perlu Diwaspadai?

Alergi Pada Bayi: Apa Yang Perlu Diwaspadai?

Alergi pada bayi bisa beragam pemicu dan gejalanya. Apabila bayi Anda mengalami ruam dan kulitnya tidak lembut lagi seperti kulit bayi lainnya atau bayi Anda sering bersin, bisa jadi hal ini adalah tanda-tanda alergi pada si Kecil. Nah, pelajari tentang alergi pada...

SensiCare