Kenali Eksim, Penyakit Kulit Yang Mengganggu

30 Dec, 2018 | Artikel

EKSIM / ECZEMA

 

eksim

Ilustrasi seorang anak terkena eksim di bagian pipi wajahnya.

 

Moms, pernahkah Anda menyadari kulit si Kecil mengalami peradangan pada kulit dengan tanda bercak kemerah-merahan, terasa gatal, kering, bahkan kulit menjadi kasar dan pecah-pecah? Bisa jadi si Kecil mengalami penyakit kulit eksim, Moms.

 

Kelainan kulit yang dinamakan eksim ini mengambil istilah dari bahasa Yunani, yaitu “ekzein”, yang diartikan mendidih atau mengalir keluar. Karena di saat kondisi eksim makin memburuk, dapat mengakibatkan kulit yang meradang hebat tersebut mengeras bahkan melepuh hingga memecah dan mengeluarkan cairan. Moms perlu tahu, eksim terkadang juga disebut dengan dermatitis atopik karena kedua istilah ini mengacu pada peradangan kulit.

 

Penyakit kulit ini tak memandang usia sehingga dapat terjadi pada anak-anak hingga orang dewasa. Namun kelainan kulit ini sering kali dijumpai pada anak-anak, mulai dari bayi hingga balita. Moms mungkin sering merasa bingung antara penyakit eksim (dermatitis atopik) dan cradle cap (dermatitis seboroik) pada bayi. Tetapi, kedua hal tersebut ada perbedaannya lho, Moms. Kalau cradle cap berupakerak berminyak dan bersisik yang biasanya muncul di kulit kepala dan dahi yang disebabkan karena kulit bayi Anda membuat terlalu banyak minyak (sebum). Biasanya ketika bayi berusia 8-12 bulan, bayi akan bersih dari cradle cap.

 

Gejala Eksim Setiap Bayi Berbeda

Tanda-tanda atau gejala eksim yang muncul dapat berbeda-beda pada bayi, balita, hingga anak yang usianya sudah lebih besar. Area tubuh yang terkena eksim dan tingkat kegatalannya juga berbeda-beda, Moms. Biasanya gejalanya akan dimulai ketika kulit terasa gatal-gatal, dari gatal ringan hingga gatal yang lebih berat sampai menyebabkan kulit memerah meradang, bahkan berdarah. Kemudian kulit juga akan mengering, menebal, menghitam, memecah, hingga mengeluarkan sisik. Munculnya  gejala-gejala ini akan menyebabkan fungsi sawar kulit (skin barrier) atau penghalang dari berbagai ancaman yang datang dari luar menurun, sehingga kulit menjadi lebih rentan terhadap serangan bakteri, mikroba, iritan dan alergen.

 

Biasanya Moms, eksim pada bayi dapat langsung diketahui pada tahap usia awal si Kecil. Kemudian, sekitar 65% bayi akan mulai berkembang gejala-gejala eksimnya pada tahun pertama dan 90% bayi lain gejala eksimnya akan berkembang sebelum berusia 5 tahun. Gejala eksim yang muncul terlihat bercak-bercak merah dengan kulit yang mengering, terasa gatal dan kasar. Kadang pula kulit si Kecil jadi menebal dan bersisik, bahkan terdapat benjolan merah kecil yang mengeluarkan cairan atau menjadi terinfeksi karena tergores.

 

Tanda-tanda penyakit kulit ini dapat muncul di bagian tubuh mana saja pada si Kecil, mulai dari wajah, leher, lengan, kaki, siku, dan area di belakang lutut. Terkadang eksim yang terlihat di sekitar wajah si Kecil  berupa ruam dan berbintik merah.

 

Penyakit eksim ini bisa datang dan pergi atau terjadi berulang (kambuh-kambuhan). Ada sebagian bayi yang tetap akan mengalami eksim hingga ia dewasa, bahkan sepanjang hidupnya. Terkadang pula, gejala eksim tersebut tidak muncul dalam beberapa tahun. Namun Moms tak perlu khawatir, karena eksim pada kebanyakan bayi bisa diatasi sebelum mereka mulai sekolah nanti.

 

Memang, penyakit kulit ini tidak dapat disembuhkan sama sekali, tetapi seiring waktu gejala-gejala yang timbul akan berkurang ketika dewasa. Ada pula si Kecil yang mampu mengatasi gejala-gejala eksim di saat ia dewasa. Meski begitu, si Kecil akan tetap memiliki kulit yang kering.

 

Faktor Penyebab Eksim

Hingga saat ini, para dokter ataupun ahli medis belum menemukan secara pasti penyebab munculnya eksim, Moms. Meski begitu, para ahli meyakini bahwa kelainan kulit yang dialami si Kecil ini dapat muncul karena adanya keterkaitan antara beberapa faktor, yaitu faktor genetik, sistem kekebalan tubuh, dan lingkungan. 

 

Menurut para ahli, peran genetik sangat berpengaruh dalam perkembangan eksim pada si Kecil, Moms. Terutama ketika Moms memiliki riwayat penyakit eksim, asma, alergi makanan dan alergi musiman seperti hay fever (alergi serbuk sari), tentunya dapat menurunkan penyakit tersebut kepada si Kecil. Para ilmuwan mengidentifikasi bahwa ada beberapa tipe eksim yang memang berasal dari genetik, yaitu dermatitis atopik dan dermatitis kontak.

 

Baca Juga: EKSIM KERING: Gejala, Jenis, dan Cara Mengatasi

 

Menurut penelitian, dermatitis atopik ditandai oleh abnormalitas sawar kulit, karena adanya mutasi gen yang menghasilkan filaggrin dan lipid terutama ceramide yang kurang. Pada analogi histologi kulit sebagai model batu bata (bricks) dan semen (mortar) ,  sel-sel korneosit digambarkan sebagai batu bata dan matriks lipid sebagai semen yang menyambung sel-sel korneosit ini. Filaggrin adalah salah satu protein yang menyusun   sel korneosit (batu bata), sedangkan ceramide adalah salah satu komponen penting dalam matrix lipid (semen). Tembok yang kuat dibentuk oleh susunan batu bata dan semen yang baik, begitu juga dengan kulit. Sehingga apabila filaggrin dan ceramide ini jumlahnya kurang dikulit, maka akan menyebabkan sawar kulit terganggu.    

 

Faktor genetik juga berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh, Moms. Gen akan menentukan apa yang akan bereaksi oleh sistem kekebalan tubuh dan seberapa kuatnya. Sistem kekebalan tubuh biasanya akan mengabaikan protein yang menjadi bagian dalam tubuh dan hanya menyerang protein yang mengganggu, seperti bakteri dan virus. Namun dalam kasus eksim, sistem imun dalam tubuh si Kecil akan kehilangan kemampuannya untuk membedakan kedua protein tersebut sehingga terjadilah reaksi yang berlebihan dan muncul peradangan yang di kulit.

 

Sistem kekebalan tubuh si Kecil juga akan bereaksi pada alergen dengan melepaskan antibodi yang akan menyebabkan peradangan. Alergen yang berperan menimbulkan eksim adalah tungau debu, serbuk sari, dan makanan. Karena itu, penting sekali untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh ahlinya.

 

Selain pengaruh internal, eksim juga dapat disebabkan adanya pengaruh dari luar, yaitu lingkungan di sekitar. Berbagai aktivitas si Kecil dapat menyebabkan kulit menjadi lebih sensitif sehingga menimbulkan peradangan dan eksim. Bagi sebagian bayi, ketika kulitnya bersentuhan dengan bahan pakaian yang kasar, seperti pakaian berbahan wol, akan menyebabkan kulitnya menjadi gatal-gatal. Pakaian yang terlalu ketat juga makin memperburuk eksim si Kecil. Ada pula ketika sebagian bayi yang kulitnya merasakan suhu terlalu panas atau dingin, terpapar dengan produk-produk tertentu, atau bersentuhan dengan bulu binatang dapat menyebabkan penyakit eksim.

 

eksim

Bahan kain yang kasar dapat memicu kulit si Kecil iritasi sehingga meningkatkan gejala eksim.

 

Pencetus Peningkat Risiko Eksim

Kondisi kulit si Kecil yang terkena eksim bisa semakin parah apabila kulitnya bersentuhan dengan pencetus-pencetusnya sebagai berikut.

 

  • Kulit kering. Ketika kulit si Kecil sangat kering, kulit akan lebih mudah pecah-pecah, bersisik, kasar, dan tebal sehingga risiko timbulnya eksim bisa meningkat. 
  • Iritan. Penggunaan deterjen, pengharum pakaian, sabun mandi, sampo yang bersentuhan dengan kulit akan membuat kulit menjadi kering, gatal, dan makin sensitif dengan iritan. Selain produk tersebut, ada pula iritan lain yang membuat kulit teriritasi, seperti asap rokok, pengharum, serbuk sari, dan bulu.
  • Stres. Emosi yang meningkat, seperti rasa cemas dan stres yang tinggi, ternyata juga mampu memicu timbulnya eksim. Meski belum diketahui mengapa stres bisa memicu eksim, namun hal ini terjadi pada sebagian anak. Stres yang dialami si Kecil akan menimbulkan reaksi memerah, yang diikuti rasa gatal dan kulit teriritasi sehingga meningkatkan gejala eksim.
  • Cuaca dan Keringat. Cuaca yang panas akibat terpapar sinar matahari dan membuat si Kecil berkeringat, juga bisa meningkatkan gejala eksim. Temperatur udara yang sangat kering, terlalu lembap, terlalu dingin, atau saat mandi dengan air panas pun bisa memperparah eksim.
  • Infeksi. Kulit si Kecil yang terkena eksim bisa terinfeksi dengan bakteri atau virus yang hidup di sekitar lingkungan. Staphylococcus aureus adalah bakteri yang paling umum ditemukan karena bakteri ini biasa terdapat pada saluran pernapasan atas dan kulit. Sementara beberapa virus yang ditemukan seperti virus Molluscum contagiosum, herpes simplex, dan beberapa jenis jamur juga dapat menjadi pemicu eksim.
  • Makanan. Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa beberapa jenis makanan dapat meningkatkan gejala eksim, terutama pada bayi dan anak-anak. Beberapa jenis makanan tersebut adalah kacang tanah, susu, kedelai, gandum, ikan, dan telur. Menurut beberapa ahli, menghilangkan makanan pencetus eksim tersebut dapat mengontrol timbulnya gejala eksim pada si Kecil. Meski begitu, Moms bisa mengonsultasikannya dengan dokter anak atau ahli dermatologis mengenai hal ini agar si Kecil tidak kehilangan asupan nutrisi yang masih dibutuhkan.

 

Diagnosis Penyakit Kulit Eksim

Meskipun banyak hal yang mampu mencetuskan, bahkan memperparah kondisi kulit yang terkena eksim, penyakit kulit ini tidaklah menular, Moms. Namun ketika gejala-gejala yang timbul tersebut terjadi pada si Kecil, mungkin saja Moms merasa belum mendapat kepastian apakah gejala tersebut eksim atau penyakit kulit lainnya. Cara terbaik untuk mengetahuinya adalah dengan berkonsultasi kepada dokter, mendapatkan pemeriksaan medis yang tepat, dan merunut riwayat medis keluarga.

 

Eksim dapat didiagnosis dengan melakukan pemeriksaan fisik. Dokter juga akan menanyakan riwayat medis keluarga seperti asma, reaksi terhadap alergen (serbuk sari, binatang, atau makanan), zat-zat yang dapat membuat kulit iritasi (seperti sabun), sering stres, di mana dan kapan gejala eksim mulai timbul, dan perawatan kulit yang dilakukan sebelumnya. Terkadang, dokter juga sudah bisa mengetahui apakah ruam merah dan gatal-gatal pada kulit si Kecil merupakan eksim atau bukan. Apabila gejala tersebut kembali lagi dalam beberapa bulan kemudian, dokter akan mendiagnosisnya sebagai eksim.

 

Jika si Kecil mengalami eksim yang disebabkan alergi, tes alergi melalui darah atau tes tusuk kulit (skin prick test), perlu dilakukan. Hal ini untuk memastikan apakah kulit si Kecil benar-benar bereaksi terhadap alergen. Begitu pula alergi makanan yang dapat memicu eksim. Di bawah pengawasan dokter, si Kecil akan diperiksa apakah makanan yang dikonsumsi dapat memicu alergi dan bagaimana reaksi tubuhnya akibat alergi makanan tersebut. 

 

Tipe-tipe Eksim yang Berbeda

Penyakit kulit ini memiliki banyak tipe dan berbeda-beda. Moms perlu mengetahui beberapa tipe eksim yang sering menyerang si Kecil berikut ini.

  • Dermatitis atopik, yaitu jenis eksim yang paling umum dan biasanya terjadi pada orang yang memiliki kondisi dan riwayat keluarga dengan asma dan hay fever.
  • Dermatitis kontak, yaitu eksim yang disebabkan adanya sentuhan antara kulit dengan iritan atau alergen yang membuat kulit terasa panas terbakar, gatal, dan memerah.
  • Dermatitis seboroik sering terjadi pada kulit kepala yang dikenal dengan ketombe atau cradle cap pada bayi. Eksim ini juga muncul di area tubuh yang memiliki banyak kelenjar minyak, seperti area hidung, punggung, dada atas, alis, kelopak mata.
  • Eksim dishidrotik, yaitu kondisi kulit yang mengeluarkan lepuhan-lepuhan kecil yang gatal. Biasanya muncul di tepi jari tangan, jari kaki, telapak tangan, dan telapak kaki. 

 

Tidak Bisa Disembuhkan, Tapi Bisa Dikontrol

Eksim yang menyebabkan sebagian area tubuh gatal-gatal, pastinya sangat mengganggu aktivitas si Kecil ya, Moms. Apalagi penyakit ini belum dapat disembuhkan secara total sehingga dapat terjadi berulang kali atau kambuh-kambuhan. Namun Moms tak perlu khawatir, karena eksim si Kecil dapat dikontrol gejala-gejalanya dengan melakukan perawatan menggunakan obat, terapi, hingga perawatan di rumah, di antaranya sebagai berikut.

 

  • Pelembap. Pelembap merupakan perawatan lini pertama untuk eksim. Pelembab dapat mengunci air di dalam kulit sehingga dapat mengurangi kekeringan, dan mencegah timbulnya kemerahan dan gatal-gatal.
  • Kortikosteroid. Dokter biasanya merekomendasikan obat krim atau salep steroid yang ringan dan aman bagi kulit si Kecil. Perawatan topikal dengan krim dan salep kortikosteroid dapat membantu mengatasi peradangan dan meringankan gejala utama eksim seperti gatal-gatal dan kulit yang meradang. Obat kortikosteroid yang biasa digunakan untuk mengatasi eksim ringan adalah hidrokortison. Jika perawatan masih kurang efektif, biasanya dokter memberi resep kortikosteroid sistemik berupa suntikan atau tablet.
  • Salep antiradang NSAID. Selain obat steroid, obat antiradang nonsteroid kadang juga diresepkann oleh dokter untuk membantu menanggulangi eksim ringan hingga sedang, terutama untuk si Kecil yang berusia 2 tahun ke atas. Dengan mengoleskannya dua kali sehari, salep ini membantu mengurangi peradangan dan membantu kulit kembali normal.
  • Antibiotik. Rasa gatal akan mengganggu si Kecil. Apalagi jika ia terus menggaruknya, yang akan merusak kulit sehingga bakteri dapat masuk dan memperburuk kondisi eksim. Untuk mengurangi peradangan akibat infeksi bakteri ini, dokter memberikan resep antibiotik yang tepat untuk si Kecil.
  • Antihistamin. Sementara antihistamin berguna untuk meringankan rasa gatal di malam hari sehingga membantu si Kecil dapat tidur dengan nyenyak.
  • Terapi cahaya (Fototerapi). Terapi jenis ini membantu mengobati eksim si Kecil dari tingkat sedang hingga berat. Cahaya UV membantu menjaga sistem kekebalan tubuh si Kecil dari reaksi yang berlebihan. Namun di sisi lain, terapi cahaya yang berlebihan akan menyebabkan kulit si Kecil mengalami penuaan dan berisiko kanker kulit.
  • Perawatan di rumah. Jagalah kulit si Kecil agar tetap sehat. Moms dapat mencoba beberapa kiat perawatan di rumah, seperti menggunakan air hangat saat mandi, menggunakan pelembap setiap hari, mengurangi kontak kulit si Kecil dengan iritan, memiilih pakaian berbahan yang lembut dan nyaman, menghindari kondisi yang terlalu panas, mengetahui pencetus-pencetus eksim, dan mengelola stres. 

 

menghindari eksim

Gunakan air hangat saat memandikan si Kecil untuk menjaga kulitnya tetap sehat sehingga gejala eksim dapat dikontrol.

 

Kapan Harus Periksa Dokter?

Apakah Moms merasa bingung dengan gejala-gejala eksim yang muncul pada si Kecil? Jika khawatir dengan kondisi si Kecil, Moms bisa langsung menemui dokter apabila terlihat tanda-tanda eksim pada si Kecil seperti berikut ini.

  • Apabila ruam merah yang gatal pada kulit terus berkembang, kemudian di dalam keluarga juga terdapat riwayat eksim atau asma. 
  • Peradangan tidak berkurang atau tidak bisa ditangani meskipun sudah diberi pengobatan dengan selama lebih dari satu pekan.
  • Di atas kulit yang terkena eksim terlihat berwarna kekuningan hingga cokelat muda dengan lepuhan berisi nanah. Hal ini mengindikasikan adanya infeksi bakteri sehingga harus diobati dengan antibiotik sesuai resep dokter.
  • Apabila orang-orang terdekat berada di sekitar si Kecil dan memiliki virus herpes simplex, si Kecil berisiko terpapar virus tersebut.
  • Si Kecil merasakan nyeri dan sakit akibat lepuhan-lepuhan yang berisi cairan di sekitar area kulit yang terkena eksim. 

 

 

 

TAGS: 

Artikel Lainnya

Kenapa Kulit Terasa Gatal? Kenali Siklus Gatal Garuk Ini!

Semakin digaruk, kulit semakin gatal. Ketika kulit semakin gatal, menggaruknya pun akan semakin sering. Begitu saja seterusnya sampai kulit terluka dan berdarah, barulah kita tersadar dan berhenti menggaruknya. Apakah si Kecil pernah mengalami hal ini Moms? Si Kecil...

Penyebab Gatal Alergi dan Cara Menangani Pada Kulit

Alergi pada kulit dapat terjadi pada siapa saja. Mulai dari orang dewasa hingga si Kecil bisa juga terkena alergi. Penyebabnya sangatlah bermacam – macam. Apalagi daya tahan tubuh si Kecil masih rentan. Reaksi alergi yang dialami ialah dengan munculnya gatal-gatal...

Penyebab Gatal Pada Kulit dan Cara Mengatasi

Gatal pada kulit sangatlah menggangu. Kondisi gatal–gatal disebut pruritus adalah hal normal terjadi. Rasa Sakit yang amat sangat dapat membuat Moms tidak nyaman, mengganggu kehidupan, hingga berakibat cemas maupun depresi. Moms harus berhati – hati jika tidak kunjung...