Alergi Dingin: Ciri – Ciri, Penyebab, dan Cara Mengobati

Alergi Dingin: Ciri – Ciri, Penyebab, dan Cara Mengobati

Alergi dingin merupakan reaksi yang timbul di permukaan kulit setelah terpapar suhu udara yang dingin. Ya, suhu udara yang dingin juga bisa menimbulkan masalah kesehatan seperti alergi. Simak penjelasannya berikut ini yuk!

Ketika udara dingin, Anda pastinya akan langsung ambil selimut atau jaket tebal. Bagi para ibu, pasti juga langsung melindungi sang buah hati dengan memberinya selimut atau jaket. Hal ini agar terhindar dari masalah kesehatan.

Ya, sebabnya ada sebagian orang yang dengan mudah mengalami gangguan kesehatan ketika suhu di sekitarnya mulai rendah. Dari sebagian orang tersebut, ada yang tubuhnya bisa langsung mengalami reaksi alergi ketika terpapar udara dingin. Setelah beberapa saat terpapar, permukaan kulit akan tampak ruam dan berbintik kemerahan, kemudian kulit mulai terasa gatal – gatal sehingga merasakan ketidaknyamanan. Nah, bisa jadi Anda sedang mengalami alergi dingin.

 

Pemicu Alergi Dingin

Alergi dingin disebut juga dengan urtikaria dingin. Hal ini merupakan reaksi dari sistem kekebalan tubuh yang berlebihan ketika tubuh terpapar suhu udara yang rendah, berangin, dan lembap. Pemicunya adalah udara yang dingin dan air dingin. Contohnya ketika berada di dalam ruangan ber-AC, saat mandi pagi hari, atau berenang di air dingin. Dalam kasus yang langka, konsumsi makanan/minuman yang dingin juga bisa jadi sebagai pemicu. Namun, penyebab pasti timbulnya alergi ini belum diketahui.

Meski begitu, ada pula faktor lainnya yang membuat alergi ini makin berisiko. Antara lain ketika seseorang itu, secara genetik, mewarisi dari orangtuanya, tetapi hal ini sangat jarang terjadi. Kemudian ketika seseorang yang baru saja terkena infeksi, memiliki penyakit tertentu, adanya virus, atau sel-sel kulitnya yang lebih sensitif. Selain itu, orang yang paling berisiko terkena alergi dingin adalah di rentang usia bayi, anak-anak, hingga remaja.

 

Gejala Alergi Dingin

Ketika tubuh terpapar suhu yang dingin, tubuh akan melepaskan zat kimia bernama histamin ke aliran darah. Nah, zat-zat kimia inilah yang membuat gejala-gejala muncul. Gejala-gejala yang timbul dari reaksi alergi dingin pada setiap orang bisa berbeda. Mulai dari tingkat yang ringan hingga tingkat yang lebih berat dan parah.

gejala alergi dingin

Ilustrasi anak mengalami kulit ruam dan gatal yang merupakan tanda-tanda alergi dingin

Gejala di level yang ringan, pada umumnya akan muncul ruam kemerahan pada area kulit. Kemudian muncul bentol-bentol yang menonjol pada kulit yang disertai dengan rasa gatal. Besarnya bentol yang terjadi juga beragam. Mulai dari yang kecil hingga besar seperti membentuk sebuah “pulau” di area kulit. Reaksiakan memburuk ketika kulit menghangat.

Reaksi alergi ini biasanya muncul 5—10 menit setelah permukaan kulit terpapar pada suhu dingin. Gejala akan makin meningkat ketika kondisi lingkungan sekitar juga lembap. Gejala–gejala ini akan bertahan setidaknya 1—2 jam. Gejala-gejala ini bisa timbul pada area kulit di wajah, lengan, punggung, perut, dan kaki. Reaksi ini dikenal juga dengan nama biduran. Gejala-gejala seperti ini akan hilang dengan sendirinya. Pada sebagian orang, gejala alergi ini akan menghilang beberapa tahun kemudian.

 

Alergi Dingin Bisa Berbahaya

Sementara itu, beberapa orang juga bisa mengalami gejala dengan tingkat sedang hingga yang lebih parah, meskipun hal ini sangat jarang terjadi. Penyebab utama gejala ini bisa meningkat ke kondisi yang lebih parah karena permukaan kulit di seluruh tubuh terpapar suhu yang dingin, misalnya disebabkan karena berenang di air yang dingin.

Di antaranya seperti terjadi pembengkakkan pada bibir saat mengonsumsi makanan/minuman dingin. Saat tangan memegang benda dingin, seperti es batu, tangan juga akan terasa bengkak. Reaksi yang lebih parah dan berbahaya bahkan bisa membuat tubuh pingsan atau hilang kesadaran, tekanan darah yang rendah, jantung berdebar, pembengkakan anggota badan atau dada, dan syok anafilaktik. Lidah dan tenggorokan juga membengkak sehingga bisa membuat seseorang kesulitan bernapas.

Kalau sudah ada penampakan gejala seperti ini, sebaiknya langsung dibawa ke dokter atau rumah sakit terdekat agar bisa ditangani segera.

 

Bedakan Alergi Dingin dan Flu

Terkadang ketika terjadi alergi dingin seringkali dianggap sebagai flu. Nah, pelajari perbedaan antara alergi dan flu berikut ini agar Anda mendapat penanganan yang tepat.

  • Alergi lebih sering terjadi daripada flu, yaitu 2—3 kali dalam seminggu. Sementara flu hanya terjadi satu kali dalam seminggu.
  • Kondisi tubuh saat terjadi alergi dingin tidak menunjukkan adanya gejala demam. Saat alergi, gejala yang ditunjukkan adalah perubahan pada area permukaan kulit yang kemerahan, gatal-gatal, dan terjadi pembengkakan. Jenis pilek pada alergi juga ditunjukkan ketika lendir yang keluar dari hidung berwarna jernih, bukan berwarna kuning atau hijau. Pilek karena alergi dingin juga membuat Anda lelah dan sulit tidur.
  • Gejala demam yang disertai dengan bersin dan batuk ditunjukkan ketika mengalami flu. Jika tubuh terasa hangat, itu artinya Anda sedang mengalami gejala flu. Gejala lainnya seperti hidung beringus, tersumbat, batuk, dan sakit tenggorokan. Flu terjadi karena adanya infeksi virus. Anda juga akan merasakan kelelahan pada tingkat yang lebih tinggi hingga menguras energi dan lebih mengantuk dari biasanya.

 

Lakukan Tes

Anda dapat mencoba melakukan tes dengan menempatkan sebuah es batu ke permukaan kulit selama lima menit. Jika memang memiliki alergi dingin, gejala seperti ruam kemerahan dan bentol-bentol akan muncul beberapa menit setelah es batu tersebut diangkat.

Apabila Anda masih merasa bingung dengan gejala-gejala yang timbul tersebut, apakah gejala tersebut akibat alergi atau gangguan kulit lainnya, sebaiknya konsultasikan dengan dokter spesialis. Dokter akan menanyakan beberapa hal, misalnya terkait gejala yang dialami atau riwayat penyakit yang pernah diderita. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan lainnya, seperti tes darah atau tes urine.

 

Cara Mengatasi Alergi Dingin

Karena paparan udara atau suhu yang rendah menjadi pemicu, waspadalah ketika cuaca sekitar mulai mendingin. Nah, lakukan beberapa hal berikut ini untuk mengatasinya.

mengatasi alergi dingin

Jika memang sudah terindikasi terkena alergi dingin, sebaiknya hindari anak-anak berenang di air dingin.

  • Bila memungkinkan, hindari tempat-tempat yang lingkungannya bersifat dingin.
  • Lindungi tubuh dan tutupi permukaan kulit yang terpapar udara dingin dengan jaket atau selimut yang tebal.
  • Hindari pula berenang di air dingin untuk sementara waktu. Jika ingin berenang, coba dahulu dengan memasukkan tangan atau kaki ke dalam air. Kemudian lihatlah reaksi yang terjadi pada kulit.
  • Rendam kaki atau mandi dengan air hangat.
  • Perhatikan asupan makanan yang masuk. Sebaiknya, hindari makanan/minuman yang dingin untuk mencegah pembengkakan pada tenggorokan.
  • Perhatikan pula waktu dan pemicu yang terjadi. Misalnya, apakah gejala muncul ketika terkena air dingin atau saat konsumsi minuman/makanan yang dingin. Dengan begitu, pemicu alergi ini dapat dihindari.
  • Ketika Anda berencana untuk melakukan operasi, konsultasikanlah dengan dokter bedah bahwa Anda memiliki riwayat alergi dingin. Nantinya, tim operasi bedah akan mengambil langkah-langkah tertentu untuk mencegah timbulnya gejala-gejala saat di ruang operasi. 

 

Cara Mengobati Alergi Dingin

  • Minum obat antihistamin sebelum terpapar suhu yang dingin. Apabila Anda ingin memberikannya kepada bayi di bawah 6 bulan, pemberian antihistamin ini juga harus dikonsultasikan dulu dengan dokter. Obat antihistamin yang biasa diberikan untuk mengatasi alergi dingin adalah cetirizine, loratadine, atau desloratadine. Obat-obatan lainnya untuk pereda adalah kortikosteroid, capsaicin oles, omalizumab, atau obat agonis reseptor seperti zafirlukast dan monteluklast.
  • Minum obat alergi yang sudah diresepkan oleh dokter agar pengobatan dilakukan dengan tepat. Biasanya dokter memberi resep obat
  • Jika dokter menganjurkan dan meresepkan suntikan epinephrine (seperti EpiPen, Aubi-Q, dan lainnya), bawalah selalu ke mana pun Anda pergi untuk mengatasi ketika kondisi darurat terjadi. Misalnya, ketika gejala yang timbul meningkat ke level yang lebih berat. Epinephrine dapat diberikan untuk anak-anak hingga orang dewasa, dengan dosis yang disesuaikan kondisi masing-masing orang.

 

 

 

 

TAGS: 

Artikel Lainnya

Alergi Dingin: Ciri – Ciri, Penyebab, dan Cara Mengobati

Alergi Dingin: Ciri – Ciri, Penyebab, dan Cara Mengobati

Alergi dingin merupakan reaksi yang timbul di permukaan kulit setelah terpapar suhu udara yang dingin. Ya, suhu udara yang dingin juga bisa menimbulkan masalah kesehatan seperti alergi. Simak penjelasannya berikut ini yuk! Ketika udara dingin, Anda pastinya akan...

Pelajari Ciri – Ciri dan Mengatasi Ruam Popok

Pelajari Ciri – Ciri dan Mengatasi Ruam Popok

Bayi yang baru lahir memang rentan ya, Moms. Terpapar zat/benda asing sedikit saja, dapat membuat buah hati Anda merasa tidak nyaman. Salah satu kondisi yang umum dikeluhkan oleh bayi adalah masalah ruam popok. Ruam popok merupakan reaksi kulit yang seringkali terjadi...

9+ Cara Mengatasi Alergi Debu Pada Kulit

9+ Cara Mengatasi Alergi Debu Pada Kulit

Alergi debu merupakan reaksi tubuh yang terjadi ketika seseorang menghirup atau terpapar partikel-partikel debu yang ada di lingkungan di dalam rumah. Alergi bisa terjadi pada siapa saja, mulai dari bayi, anak-anak, hingga orang dewasa. Penyebab alergi bisa...

Pelajari Ciri – Ciri dan Mengatasi Ruam Popok

Pelajari Ciri – Ciri dan Mengatasi Ruam Popok

Bayi yang baru lahir memang rentan ya, Moms. Terpapar zat/benda asing sedikit saja, dapat membuat buah hati Anda merasa tidak nyaman. Salah satu kondisi yang umum dikeluhkan oleh bayi adalah masalah ruam popok.

Ruam popok merupakan reaksi kulit yang seringkali terjadi pada bayi, terutama pada tahun pertama kehidupannya. Kulit Si Kecil, terutama di bagian bokong, lipatan paha, dan kelamin, mengalami iritasi atau peradangan. Sebabnya, area tersebut tertutup oleh popok dan basah terkena paparan urine dan tinja. Kondisi ini akan membuat bayi merasa terganggu dan tidak nyaman.

Ruam kebanyakan terjadi karena popok tidak diganti dalam waktu lama sehingga menimbulkan iritasi pada kulitnya. Namun tenang ya, Moms, masalah ini bukan karena Anda salah melakukan perawatan pada bayi. Sebab, ruam ini  bisa terjadi meskipun Moms sudah membersihkan area popok dan mengganti popok dengan rutin. Hampir semua bayi mengalami masalah ini, Moms.

Moms juga tak perlu khawatir karena penyakit ini masih bisa dikontrol dan diatasi. Ada cara mudah yang bisa dilakukan di rumah untuk mengatasinya. Lebih baik Moms mempelajari ciri-ciri, cara mengatasi, dan cara mencegah ruam popok berikut ini yuk!

 

Ciri-Ciri Ruam Popok

 Berikut ini ada dua tanda agar Moms dapat mengenali dan memperhatikan ciri-ciri ketika Si Kecil mengalami ruam popok.

  1. Tanda-tanda yang dapat dilihat melalui kulit si bayi. Antara lain, kulit bayi di daerah popok—pantat, paha, dan alat kelamin—akan tampak bercak-bercak yang memerah. Lalu, kulitnya juga kering dan melepuh, serta terdapat luka lecet.
  2. Perubahan kebiasaan si bayi. Perhatikanlah kebiasaan bayi Anda, Moms. Apabila Si Kecil tampak berbeda dari hari-hari sebelumnya, seperti ia merasa tidak nyaman, sering rewel, atau menangis saat area popok dibersihkan, disentuh, dan diganti popoknya. Nah, mungkin saja ia mengalami ruam popok.

 

Penyebab Ruam Popok

Penyebab terjadinya ruam popok pada bayi bukan hanya karena popok basah saja. Ternyata, ada banyak hal yang menjadi penyebabnya, Moms. Nah, berikut beberapa penyebab.

penyebab ruam popok

Kenali ciri-ciri dan penyebab ruam popok pada bayi

  • Kulit di area popok terkena paparan urine dan feses yang terlalu lama sehingga kulit Si Kecil iritasi. Kulit bayi makin rentan alami ruam popok apabila ia sering buang air besar karena diare. Tinja membuat kulit lebih iritasi daripada urine.
  • Si Kecil memakai popok atau pakaian yang terlalu ketat. Hal ini membuat popok dapat bergesekan dengan kulit sehingga kulitnya lecet dan menyebabkan ruam.
  • Alergi atau sensitif terhadap kandungan bahan produk baru yang digunakan sehingga kulit Si Kecil jadi iritasi. Produk baru ini bisa bermacam-macam, seperti tisu bayi atau popok sekali pakai merek baru. Bahan-bahan kimia dalam deterjen, pemutih, atau pelembut pakaian yang digunakan untuk mencuci popok kain Si Kecil. Zat-zat yang terkandung dalam beberapa losion bayi, bedak tabur bayi, dan minyak bayi juga bisa menambah masalah terjadinya ruam.
  • Infeksi bakteri dan jamur. Area sekitar popok yang tertutup sangat hangat dan lembap. Air seni Si Kecil juga dapat mengubah pH kulitnya sehingga menjadi tempat terbaik bagi bakteri dan jamur untuk berkembang biak. Perkembangbiakan bakteri dan jamur yang berlebihan akan menyebabkan infeksi sehingga membuat kulit memerah, meradang, dan membengkak.
  • Makanan baru. Saat bayi hanya konsumsi ASI, ruam yang dialaminya merupakan reaksi terhadap makanan yang dimakan oleh Anda, Moms. Namun ketika bayi mulai makan makanan pendamping ASI, kandungan fesesnya juga akan berubah. Frekuensi Si Kecil buang air besar pun akan meningkat. Perubahan pola makan ini dapat menjadi salah satu pemicunya.
  • Kulit yang sensitif. Bayi yang memiliki masalah pada kulitnya, seperti dermatitis atopik atau dermatitis seboroik (eksim), lebih rentan.
  • Antibiotik. Bayi mengonsumsi antibiotik atau bayi yang minum ASI sementara Moms sedang mengonsumsi antibiotik. Antibiotik akan meningkatkan risiko diare sehingga Si Kecil berpotensi mengalami ruam. Selain itu, antibiotik juga dapat membasmi bakteri baik yang menjaga pertumbuhan jamur. Hal ini bisa mengakibatkan bayi mengalami ruam popok karena infeksi jamur.

 

Popok Kain vs Popok Sekali Pakai

Apakah jenis popok yang dipakai si bayi juga dapat memengaruhi timbulnya ruam? Perlukah mengganti popok kain dengan popok sekali pakai, atau sebaliknya? Nah, mungkin Moms sempat berpikir hal ini juga.

memilih popok

Pilih popok kain atau popok sekali pakai?

Perlu diketahui Moms, dalam mencegah ruam popok memang belum ada bukti yang kuat bahwa popok kain lebih baik daripada popok sekali pakai. Begitu juga sebaliknya. Gunakan saja popok yang menurut Moms terbaik untuk si bayi, baik itu popok kain maupun popok sekali pakai.

Baca Juga: Mengenal Eksim Susu atau Ruam Susu Pada Bayi

Yang paling penting adalah memperhatikan kondisi popoknya. Jika popok sudah basah, langsung segera digantikan dengan popok yang kering agar area sekitar popok tetap bersih dan kering. Kemudian, waspada terhadap penggunaan produk pembersih untuk mencuci popok bayi. Jika produk tersebut dapat menyebabkan ruam, segera ganti jenis atau merek produk yang lebih cocok.

 

Langkah Perawatan Ruam Popok Pada Bayi

Umumnya, ruam popok masih dapat diatasi dengan langkah-langkah perawatan yang bisa dilakukan di rumah. Perawatan berikut ini dapat membantu mengatasi sekaligus mencegah timbul kembali.

cara mengatasi ruam popok

Sesekali biarkan Si Kecil tidak memakai popok dan kulit area popok terekspos agar kulitnya dapat “bernapas”.

  • Cuci tangan dengan sabun terlebih dulu, baik sebelum maupun sesudah Moms mengganti popok Si Kecil.
  • Ganti popok sesering mungkin, terutama ketika bayi sedang tidur pada malam hari. Segera ganti popok si bayi apabila sudah basah dan kotor agar kulit di sekitar area popok tetap kering dan bersih.
  • Saat mengganti popok, bersihkan kulit di sekitar area popok dengan air bersih. Namun jangan gosok kulitnya terlalu keras, apalagi ketika kulitnya sedang lecet. Setelah itu, keringkan dengan handuk lembut secara perlahan sebelum memakaikan popok yang baru.
  • Pastikan, popok yang dipakaikan pada bayi tidak terlalu ketat.
  • Oleskan krim atau salep pelindung kulit khusus bayi saat Moms mengganti popoknya sehingga dapat mengurangi iritasi pada kulitnya. Krim atau salep dengan kandungan zinc oxide dan petroleum jelly dapat melindungi kulit dari kelembapan.
  • Hindari penggunaan sabun atau tisu basah yang mengandung alkohol dan pewangi karena dapat memicu iritasi.
  • Hindari penggunaan bedak tabur karena malah akan memicu kulitnya jadi iritasi. Bedak juga dapat membuat iritasi pada paru-paru bayi.
  • Sesekali biarkan Si Kecil tidak memakai popok, tutupi saja dengan handuk lembut agar kulit di area sekitar popok dapat “bernapas” dan sirkulasi udara. Hal ini juga membantu kulitnya kering secara alami.
  • Apabila Si Kecil dalam masa pemulihan dari ruam popok, gunakan popok dengan ukuran yang lebih besar.
  • Mandikan Si Kecil setiap hari dengan air hangat suam-suam kuku dan sabun khusus bayi tanpa pewangi.
  • Gunakan produk-produk pembersih yang memang khusus diciptakan untuk bayi agar terhindar dari bahan-bahan kimia yang dapat memicu iritasi kulit pada bayi.

 

Perlukah ke Dokter?

Moms bisa mengunjungi dokter apabila ruam yang dialami Si Kecil tak kunjung sembuh meskipun sudah melakukan perawatan di rumah selama beberapa hari. Apalagi jika ruam tersebut bertambah parah. Tanda – tandanya adalah kulit berdarah, gatal, mengeluarkan cairan, hingga menyebabkan rasa terbakar atau nyeri saat buang air kecil atau buang air besar. Kemudian, Si Kecil juga mengalami demam. Konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Biasanya, dokter akan memberikan resep obat berupa krim kortikosteroid, salep antijamur, atau antibiotik. Resep ini diberikan tergantung pada kondisi dan penyebab ruam popok yang dialami Si Kecil. Apabila sudah diberi obat resep dari dokter dan ruam popok tidak membaik juga, dokter akan merekomendasikan Moms untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis kulit.

 

 

 

TAGS: 

Artikel Lainnya

Alergi Dingin: Ciri – Ciri, Penyebab, dan Cara Mengobati

Alergi Dingin: Ciri – Ciri, Penyebab, dan Cara Mengobati

Alergi dingin merupakan reaksi yang timbul di permukaan kulit setelah terpapar suhu udara yang dingin. Ya, suhu udara yang dingin juga bisa menimbulkan masalah kesehatan seperti alergi. Simak penjelasannya berikut ini yuk! Ketika udara dingin, Anda pastinya akan...

Pelajari Ciri – Ciri dan Mengatasi Ruam Popok

Pelajari Ciri – Ciri dan Mengatasi Ruam Popok

Bayi yang baru lahir memang rentan ya, Moms. Terpapar zat/benda asing sedikit saja, dapat membuat buah hati Anda merasa tidak nyaman. Salah satu kondisi yang umum dikeluhkan oleh bayi adalah masalah ruam popok. Ruam popok merupakan reaksi kulit yang seringkali terjadi...

9+ Cara Mengatasi Alergi Debu Pada Kulit

9+ Cara Mengatasi Alergi Debu Pada Kulit

Alergi debu merupakan reaksi tubuh yang terjadi ketika seseorang menghirup atau terpapar partikel-partikel debu yang ada di lingkungan di dalam rumah. Alergi bisa terjadi pada siapa saja, mulai dari bayi, anak-anak, hingga orang dewasa. Penyebab alergi bisa...

9+ Cara Mengatasi Alergi Debu Pada Kulit

9+ Cara Mengatasi Alergi Debu Pada Kulit

Alergi debu merupakan reaksi tubuh yang terjadi ketika seseorang menghirup atau terpapar partikel-partikel debu yang ada di lingkungan di dalam rumah. Alergi bisa terjadi pada siapa saja, mulai dari bayi, anak-anak, hingga orang dewasa.

Penyebab alergi bisa bermacam-macam. Tak hanya makanan, lingkungan di dalam rumah pun dapat menjadi pemicu seseorang mengalami alergi. Salah satu pemicu alergi yang berasal dari lingkungan rumah adalah debu. Karena biasanya, partikel-partikel debu paling banyak ditemukan di dalam rumah.

Saat sedang membersihkan atau mengibas-ngibaskan perabot rumah, seperti seprai, bantal, atau kain, akan muncul debu ketika tersorot sinar matahari. Debu inilah yang bisa menjadi alergen atau pemicu alergi di dalam ruangan sehingga menimbulkan reaksi alergi.

Karena itu, ketika seseorang memiliki alergi dan hipersensitif terhadap debu, lalu menghirup atau terpapar udara yang bercampur dengan partikel-partikel debu, pertahanan tubuhnya akan bereaksi. Sistem imun tubuhnya bereaksi pada zat protein yang ada di dalam partikel debu tersebut dan menganggapnya sebagai zat-zat berbahaya yang harus dilawan. Akhirnya, timbullah reaksi berupa gejala-gejala.

 

Partikel Kecil Debu Sebabkan Alergi Debu

                 Pemicu alergi yang dimaksud di sini bukan hanya debu saja ya. Tetapi, ada zat-zat lain yang terdapat dalam partikel-partikel debu tersebut. Zat-zat lain itu terbentuk dari sel-sel kulit mati manusia, makhluk hidup kecil yang tak dapat dilihat mata, juga dari serangga. Berikut ini beberapa zat-zat yang ada di dalam partikel debu.

penyebab alergi debu

Gambaran tungau, salah satu pencetus alergi debu

  • Tungau Debu. Menurut American College of Allergy, Asthma, and Immunology, tungau debu adalah pemicu alergi/alergen di dalam ruangan yang paling umum. Sebabnya, tungau debu banyak ditemukan di dalam rumah. Antara lain ada di bantal, kasur, seprai, karpet, dan lapisan kain yang menutupi furnitur di rumah. Makhluk mikroskopis ini bisa hidup dan tumbuh subur di tempat yang lembap, hangat, dan jarang terkena sinar matahari. Kira-kira di ruangan dengan temperatur antara 20—25 derajat celcius dan kelembapan antara 70%–80%.
     
    Dalam partikel-partikel debu terdapat kotoran dan tubuh tungau debu yang membusuk. Partikel tungau debu yang sangat kecil ini akan beterbangan di udara ketika Anda mengeringkan dan membersihkan tempat tidur dengan vakum, berjalan di atas karpet atau menyedot debu pada karpet. Zat protein yang ada dalam serpihan-serpihan tungau debu inilah yang menjadi penyebab alergi debu apabila terhirup atau tersentuh kulit.
  • Spora. Partikel debu lainnya adalah partikel jamur kecil dan spora yang hidup di tempat lembap, seperti di kamar mandi dan dapur. Partikel-partikel jamur dan spora itu bisa melayang-layang di udara sehingga jika terhirup atau tersentuh pada orang yang sensitif pada debu akan menimbulkan gejala.
  • Kecoa. Ada lagi partikel debu lainnya yang menyebabkan alergi, antara lain serangga seperti kecoa. Beberapa orang akan langsung muncul gejala-gejala alergi ketika berada di dekat kecoa. Partikel-partikel kecil dari kecoa adalah komponen umum dalam debu yang ada di rumah, yang bisa menjadi penyebab.
  • Serbuk sari. Serbuk sari yang berasal dari pepohonan, bunga, rumput, dan gulma juga dapat menjadi pemicu. Namun, setiap orang memiliki reaksi alergi terhadap berbagai jenis serbuk sari yang berbeda.
  • Rambut dan bulu-bulu halus hewan peliharaan. Hewan peliharaan di rumah, seperti kucing dan anjing, bisa menimbulkan masalah alergi pada seseorang. Serpihan kulit mati, air liur, dan urine dari hewan peliharaan di rumah dapat memicu reaksi alergi, apalagi ketika bercampur dengan partikel debu di udara yang ada di rumah.

 

Gejala Alergi Debu

Bagaimana reaksi tubuh ketika alergi terjadi? Ketika seseorang mengalami reaksi, gejala pada umumnya akan berkaitan dengan saluran pernapasan, mulai dari hidung hingga paru-paru. Antara lain adalah bersin-bersin, hidung tersumbat, hidung meler, mata memerah, berair, dan gatal, batuk, sesak napas, tenggorokan gatal, sesak di bagian dada. Alergi debu, terutama karena tungau debu, dapat menyebabkan gejala seperti infeksi sinus dan serangan asma.

Reaksi juga dapat terjadi pada permukaan kulit. Apabila kulit tersentuh atau terpapar partikel-partikel debu tersebut, akan muncul gejala kulit memerah, ruam-ruam, dan gatal-gatal.

Baca Juga: Penyebab Gatal Alergi dan Cara Menangani Pada Kulit

Gejala tersebut akan muncul ketika Anda membersihkan debu pada perabotan, menyedot debu, atau menyapu di dalam rumah.

 

Siapa yang Berisiko?

Setiap orang dapat berisiko mengalami alergi debu. Mulai dari rentang usia bayi, anak-anak, hingga orang dewasa. Namun, bayi dan anak-anak adalah yang paling rentan mengalami alergi ini. Sebabnya, sistem imun bayi dan anak-anak belum terbentuk dengan sempurna. Apalagi bayi dan anak-anak aktivitasnya lebih banyak di sekitar tempat tidur, jadi Moms harus waspada.

Seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan alergi debu atau jenis alergi lainnya, juga dapat berisiko. Risiko tinggi terkena bisa dialami ketika seseorang juga memiliki riwayat kesehatan seperti asma.

 

Cara Mengatasi Alergi Debu

Langkah utama agar terhindari dari reaksi alergi debu adalah dengan menjauhkan diri dari debu.

Anda juga dapat melakukan beberapa hal berikut ini untuk mengurangi paparan debu di dalam rumah. Dengan begitu, Anda atau anggota keluarga yang memiliki alergi atau sensitif pada debu dapat terhindar dari gejala-gejala.

cara mengatasi alergi debu

Bersih-bersih rumah dan segala perabotannya secara berkala dapat meminimalisir partikel-partikel debu di dalam rumah

  • Bersihkan segala perabotan dan furnitur di rumah, serta ruangan di rumah secara berkala menggunakan vakum khusus dengan filter HEPA.
  • Bersihkan dan cuci secara rutin untuk kain, seprei, selimut, karpet, dan tirai gorden dengan air panas. Jangan lupa untuk menggantinya secara berkala.
  • Gunakan penyedot debu khusus tungau untuk membersihkan kasur dan bantal. Lalu, gunakan lapisan “mite-proof” untuk menutupi kasur dan bantal.
  • Gunakan alat filter HEPA untuk membersihkan dan mengeringkan udara di kamar tidur.
  • Gunakan humidifier agar dapat menciptakan kualitas udara yang baik dan menjaga kelembapan udara di dalam ruangan. Anda dapat menggunakannya di ruang tidur anak/bayi
  • Jika memiliki hewan peliharaan di rumah, sebaiknya Anda atau anggota keluarga yang memiliki alergi harus jaga jarak dulu dari hewan peliharaan. Letakkan kandangnya di luar rumah dan hindari hewan peliharaan masuk ke dalam kamar tidur.
  • Apabila serangga kecoa yang menjadi masalah alergi, sebaiknya langsung hubungi layanan pest control profesional agar bisa diatasi.
  • Kumpulkan dan simpan mainan anak-anak di tempat khusus dan letakkan di luar kamar tidur anak agar tidak berpotensi menjad tempat berkumpulnya debu.
  • Ketika sedang membersihkan rumah, sebaiknya anggota keluarga yang rentan pada alergi, untuk sementara berada di luar rumah agar partikel-partikel debu yang melayang di udara tidak terhirup atau terpapar. Apabila Anda sendiri yang rentan terhadap alergi, namun tetap harus membersihkan rumah, sebaiknya gunakan masker khusus, seperti masker N-95.

 

Cara Mengobati Alergi Debu

Apabila tindakan preventif dengan mengurangi paparan debu di dalam rumah sudah dilakukan, namun masih tetap menimbulkan reaksi, sebaiknya Anda konsultasikan dengan dokter. Bertemu dengan dokter, Anda juga dapat memastikan apakah gejala-gejala yang muncul tersebut merupakan akibat dari alergi atau flu. Tentunya, dengan mengikuti serangkaian tes alergi yang dianjurkan oleh dokter.

Apabila reaksi tubuh Anda benar karena alergi debu, dokter biasanya akan memberi resep obat untuk mengurangi gejala-gejala yang mungkin terjadi. Dekongestan dan Antihistamin adalah obat yang paling umum untuk mengatasi gejala-gejala akibat alergi tersebut. Kedua pengobatan ini dapat mengurangi gejala yang timbul, seperti hidung tersumbat, hidung meler, bersin-bersin, gatal-gatal, bengkak, hingga sesak napas. Jenis serta dosis untuk kedua obat ini sebaiknya mengikuti saran dokter. Dokter akan memberi dosis yang sesuai dengan tingkat gejala dan kondisi tersebut.

Selain itu, pengobatan lain yang dapat mengurangi gejala alergi debu adalah kortikosteroid yang dapat meredakan peradangan di hidung, seperti hidung tersumbat, pilek, bersin, dan gatal. Apabila pengobatan belum berhasil, bisa dilakukan imunoterapi agar Anda dapat menoleransi partikel-partikel debu yang menimbulkan alergi. Imunoterapi bisa dilakukan dengan cara disuntik atau oral.

 

 

TAGS: 

Artikel Lainnya

Alergi Dingin: Ciri – Ciri, Penyebab, dan Cara Mengobati

Alergi Dingin: Ciri – Ciri, Penyebab, dan Cara Mengobati

Alergi dingin merupakan reaksi yang timbul di permukaan kulit setelah terpapar suhu udara yang dingin. Ya, suhu udara yang dingin juga bisa menimbulkan masalah kesehatan seperti alergi. Simak penjelasannya berikut ini yuk! Ketika udara dingin, Anda pastinya akan...

Pelajari Ciri – Ciri dan Mengatasi Ruam Popok

Pelajari Ciri – Ciri dan Mengatasi Ruam Popok

Bayi yang baru lahir memang rentan ya, Moms. Terpapar zat/benda asing sedikit saja, dapat membuat buah hati Anda merasa tidak nyaman. Salah satu kondisi yang umum dikeluhkan oleh bayi adalah masalah ruam popok. Ruam popok merupakan reaksi kulit yang seringkali terjadi...

9+ Cara Mengatasi Alergi Debu Pada Kulit

9+ Cara Mengatasi Alergi Debu Pada Kulit

Alergi debu merupakan reaksi tubuh yang terjadi ketika seseorang menghirup atau terpapar partikel-partikel debu yang ada di lingkungan di dalam rumah. Alergi bisa terjadi pada siapa saja, mulai dari bayi, anak-anak, hingga orang dewasa. Penyebab alergi bisa...

Penggunaan Pelembab Bayi yang Tepat dan Aman untuk Si Kecil

Penggunaan Pelembab Bayi yang Tepat dan Aman untuk Si Kecil

Salah satu cara untuk memelihara kesehatan kulit bayi sekaligus menjaga kelembapannya adalah mengoleskan pelembab bayi secara rutin. Namun, Moms perlu lebih selektif dalam memilih produk pelembab untuk Si Kecil karena tidak semua pelembab cocok digunakan pada kulit bayi yang sensitif.

Bayi memiliki kulit yang tipis dan sensitif sehingga rentan mengalami beragam masalah kulit, seperti eksim, biang keringat, dan iritasi. Berbagai masalah kulit tersebut bisa dipicu oleh zat kimia yang terkandung dalam produk perawatan kulit, seperti sabun atau pelembab, khususnya produk yang mengandung pewangi dan antibakteri.

Mengenal Kegunaan Pelembab Bayi untuk Kesehatan Kulit Si Kecil

Kulit bayi yang bermasalah sering kali terlihat kering, bersisik, kemerahan, dan terasa gatal. Hal ini bisa menyebabkan bayi merasa kurang nyaman dan rewel.

Untuk melindungi Si Kecil dari masalah kulit, Moms bisa mengoleskan pelembab bayi pada kulitnya. Pelembab bayi dapat mencegah dan melindungi kulit bayi yang sensitif agar tidak kering dan iritasi.

Jenis pelembab yang sering digunakan sebagai pelembab bayi adalah emolien. Jenis pelembab ini dapat melapisi permukaan kulit bayi yang tipis agar tidak mudah kering, serta menjaga tekstur kulit bayi agar tetap halus dan lembut.

Emolien umumnya berbahan dasar lemak alami dan minyak nabati, seperti ceramide, shea butter, minyak zaitun, dan oatmeal. Selain itu, pelembab bayi juga ada yang berbahan dasar campuran antara minyak dan air.

Tips Memilih Pelembab Bayi yang Aman untuk Si Kecil

Untuk memilih pelembab bayi yang aman dan efektif merawat kulit Si Kecil, Moms dapat mengikuti beberapa tips berikut ini:

pelembab bayi yang bagus

Cara Memilih Pelembab Bayi Yang Aman dan Tepat

  • Pilih pelembab bayi yang bebas pewangi, pewarna, dan bahan
  • Gunakan pelembab bayi yang bebas paraben dan phthalate karena berisiko menyebabkan iritasi
  • Pastikan memilih pelembab bayi berlabel hypoallergenic, karena risiko munculnya alergi akibat penggunaan produk tersebut lebih
  • Pilih produk pelembab dengan tingkat keasaman (pH) 4,5–5,5.
  • Sebelum menggunakan suatu produk pelembab bayi, lakukan dulu tes alergi pada kulit Si Kecil. Caranya, oleskan tipis-tipis pelembab pada lengan Si Kecil, lalu tunggu selama beberapa jam untuk melihat apakah muncul reaksi alergi. Jika tidak muncul bentol atau ruam di area tersebut, barulah Moms boleh mengoleskannya pada seluruh tubuh Si

Moms juga bisa memilih produk pelembab bayi yang diperkaya dengan minyak esensial bunga chamomile atau susu.

Baca Juga: Pelembab Untuk Kulit Sensitif

Minyak chamomile dapat memberikan efek menenangkan, sehingga banyak digunakan untuk mengatasi insomnia pada bayi maupun orang dewasa. Aroma chamomile juga dapat membuat Si Kecil lebih tenang dan tidak rewel.

Pelembab dengan kandungan protein dan lemak dari susu juga dipercaya dapat melembutkan dan melembapkan kulit bayi, serta mengatasi masalah kulit kering pada bayi.

Nah, semua komposisi dan kriteria pelembab bayi yang efektif dan aman ini bisa Moms dapatkan dari Cussons Baby SensiCare 24hr Daily Moisturizing Lotion. Produk ini telah diformulasikan secara khusus untuk kulit bayi, termasuk bayi baru lahir yang memiliki kulit sensitif dan rentan mengalami eksim.

Cussons Baby SensiCare Moisturizing Lotion ini diperkaya dengan gandum serta minyak zaitun organik, shea butter, dan ceramide yang mampu memberikan kelembapan ekstra untuk melindungi kulit sensitif.

Selain itu, kandungan susu pada produk ini mampu menjaga kesehatan kulit bayi, sementara kandungan chamomile-nya dapat membuat bayi merasa lebih tenang dan nyaman.

Cussons Baby SensiCare 24hr Daily Moisturizing Lotion juga sudah teruji secara klinis aman digunakan serta dapat melembapkan dan memberikan kenyamanan pada kulit bayi selama 24 jam, termasuk kulit yang kering dan rentan mengalami eksim.

Untuk hasil terbaik, oleskan Cussons Baby SensiCare 24hr Daily Moisturizing Lotion secara rutin, dua kali sehari setelah mandi, tepatnya ketika tubuh Si Kecil masih sedikit basah. Moms bisa mengoleskannya lebih sering bila Si Kecil berada di ruangan ber-AC, atau bila ia sedang mengalami kulit kering atau eksim.

 

 

TAGS:

Artikel Lainnya

Alergi Dingin: Ciri – Ciri, Penyebab, dan Cara Mengobati

Alergi Dingin: Ciri – Ciri, Penyebab, dan Cara Mengobati

Alergi dingin merupakan reaksi yang timbul di permukaan kulit setelah terpapar suhu udara yang dingin. Ya, suhu udara yang dingin juga bisa menimbulkan masalah kesehatan seperti alergi. Simak penjelasannya berikut ini yuk! Ketika udara dingin, Anda pastinya akan...

Pelajari Ciri – Ciri dan Mengatasi Ruam Popok

Pelajari Ciri – Ciri dan Mengatasi Ruam Popok

Bayi yang baru lahir memang rentan ya, Moms. Terpapar zat/benda asing sedikit saja, dapat membuat buah hati Anda merasa tidak nyaman. Salah satu kondisi yang umum dikeluhkan oleh bayi adalah masalah ruam popok. Ruam popok merupakan reaksi kulit yang seringkali terjadi...

9+ Cara Mengatasi Alergi Debu Pada Kulit

9+ Cara Mengatasi Alergi Debu Pada Kulit

Alergi debu merupakan reaksi tubuh yang terjadi ketika seseorang menghirup atau terpapar partikel-partikel debu yang ada di lingkungan di dalam rumah. Alergi bisa terjadi pada siapa saja, mulai dari bayi, anak-anak, hingga orang dewasa. Penyebab alergi bisa...

Kenali Ceramide dan Manfaatnya bagi Kesehatan Kulit

Kenali Ceramide dan Manfaatnya bagi Kesehatan Kulit

Sebagai upaya untuk menjaga kesehatan kulit, pilihlah produk perawatan kulit yang mengandung ceramide. Pasalnya, bahan ini memiliki sejumlah manfaat, mulai dari mencegah kulit kering hingga meringankan gejala eksim, seperti kulit kering dan gatal-gatal.

Apa Itu Ceramide? 

Ceramide adalah asam lemak yang diproduksi secara alami oleh sel kulit. Sekitar 50% dari jaringan kulit kita terbentuk dari ceramide. Hanya saja, ceramide alami ini dapat berkurang sehingga kulit jadi kering dan kusam.

Untungnya, ada produk perawatan kulit yang mengandung ceramide. Meski bersifat sintetis, ceramide ini aman untuk kulit dan memiliki manfaat yang sama dengan ceramide alami dalam menjaga kesehatan kulit.

Beragam Manfaat Ceramide bagi Kesehatan Kulit

manfaat ceramide

Apa Itu Ceramide atau Seramid? Apa Manfaat Untuk Kulit?

Berikut ini adalah berbagai manfaat yang bisa Moms peroleh dari ceramide:

1. Melembapkan kulit

Ceramide dapat menjaga kulit tetap terhidrasi. Dengan demikian, kelembapan kulit bisa tetap terjaga, sehingga kulit tidak mudah kering dan iritasi.

2. Mengurangi tanda penuaan

Kulit yang terjaga kelembapannya tidak hanya terhindar dari beragam masalah kulit kering dan iritasi, namun juga menyamarkan tanda-tanda penuaan, seperti garis-garis halus dan keriput. Oleh karena itu, agar kulit Moms tidak cepat menua, gunakanlah pelembap kulit yang mengandung ceramide secara teratur.

3. Meredakan iritasi kulit

Salah satu penyebab iritasi kulit yang paling sering adalah eksim atau peradangan pada kulit. Menurut beberapa penelitian, salah satu penyebab terjadinya eksim adalah rendahnya kadar ceramide di epidermis yang merupakan lapisan kulit paling luar.

Eksim sering terjadi pada bayi atau orang yang memiliki kulit sensitif. Eksim yang tidak ditangani dengan baik bisa menyebabkan masalah lain pada kulit, misalnya infeksi.

Oleh karena itu, eksim perlu ditangani sebelum bertambah parah dan sebisa mungkin dicegah dengan penggunaan produk perawatan kulit yang mengandung ceramide.

4. Meringankan Psoriasis

Kadar ceramide yang rendah juga ditemukan pada penderita psoriasis. Kondisi ini merupakan peradangan pada kulit yang ditandai dengan ruam merah serta kulit yang terasa kering, bersisik, dan tebal.

Hingga saat ini, psoriasis belum dapat disembuhkan. Namun, dengan pemberian obat- obatan dan penggunaan pelembap secara rutin, gejala psoriasis bisa dikontrol agar tidak semakin parah.

5. Melindungi kulit dari paparan zat berbahaya

Selain untuk menjaga kelembapan kulit dan mencegah kulit mengalami iritasi, ceramide pada produk pelembap juga mampu melindungi kulit dari paparan zat kimia yang dapat memicu reaksi alergi dan iritasi pada kulit.

Salah satu contoh zat kimia yang sering menimbulkan iritasi kulit adalah sodium lauryl sulfate. Bahan ini banyak ditemukan dalam produk perawatan tubuh, seperti sabun dan sampo.

Selain menggunakan produk perawatan kulit yang mengandung ceramide, menjaga kadar ceramide alami pada kulit juga dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan bernutrisi, khususnya kedelai, gandum, jagung, nasi, dan ubi.

Baca Juga: Apa Itu Shea Butter? Apa Manfaatnya Untuk Kulit dan Rambut?

Ceramide sintetis yang tekandung dalam produk perawatan kulit cukup efektif untuk merawat kesehatan kulit dan sangat jarang menimbulkan efek samping, baik pada orang dewasa, anak-anak, maupun bayi.

Meski begitu, untuk lebih memastikan keamanannya, Moms dapat berkonsultasi dulu dengan dokter kulit, terutama bila Moms memiliki kulit yang sensitif atau alergi terhadap bahan-bahan tertentu.

 

 

TAGS:

Artikel Lainnya

Alergi Dingin: Ciri – Ciri, Penyebab, dan Cara Mengobati

Alergi Dingin: Ciri – Ciri, Penyebab, dan Cara Mengobati

Alergi dingin merupakan reaksi yang timbul di permukaan kulit setelah terpapar suhu udara yang dingin. Ya, suhu udara yang dingin juga bisa menimbulkan masalah kesehatan seperti alergi. Simak penjelasannya berikut ini yuk! Ketika udara dingin, Anda pastinya akan...

Pelajari Ciri – Ciri dan Mengatasi Ruam Popok

Pelajari Ciri – Ciri dan Mengatasi Ruam Popok

Bayi yang baru lahir memang rentan ya, Moms. Terpapar zat/benda asing sedikit saja, dapat membuat buah hati Anda merasa tidak nyaman. Salah satu kondisi yang umum dikeluhkan oleh bayi adalah masalah ruam popok. Ruam popok merupakan reaksi kulit yang seringkali terjadi...

9+ Cara Mengatasi Alergi Debu Pada Kulit

9+ Cara Mengatasi Alergi Debu Pada Kulit

Alergi debu merupakan reaksi tubuh yang terjadi ketika seseorang menghirup atau terpapar partikel-partikel debu yang ada di lingkungan di dalam rumah. Alergi bisa terjadi pada siapa saja, mulai dari bayi, anak-anak, hingga orang dewasa. Penyebab alergi bisa...

SensiCare