10 Cara Pilih Sabun Bayi Untuk Kulit Sensitif

10 Cara Pilih Sabun Bayi Untuk Kulit Sensitif

Mandi bisa menjadi salah satu cara untuk merawat kulit bayi agar tetap sehat. Selain itu, penting juga dalam memilih produk perlengkapan mandi, seperti sabun, yang memang dapat mendukung kesehatan kulit Si Kecil. Meski begitu, mungkin Moms sempat merasa bingung dalam memilih sabun bayi yang banyak dijual di pasaran. Nah sekarang Moms tak perlu khawatir karena berikut ini ada panduan dalam memilih sabun bayi untuk kulit sensitif. Simak yuk!

Seperti yang diketahui, bayi memiliki kulit yang tipis dan sensitif sehingga sangat rentan apabila kulitnya terpapar dengan benda-benda asing. Bila terpapar, kulit bayi bisa iritasi, kering, hingga infeksi. Kulit bayi juga lebih cepat kehilangan kelembapannya dibandingkan kulit orang dewasa. Di sisi lain, Moms pastinya ingin tetap menjaga dan merawat kulit Si Kecil tetap sehat, halus, dan lembut. Karena itu, dibutuhkan sabun khusus bayi untuk kulit sensitif.

Panduan Pilih Sabun Bayi

Namun banyaknya merek sabun bayi yang dijual di pasaran memang akan membuat Moms bingung dalam memilih sabun yang aman untuk bayi. Moms mungkin juga khawatir dengan bahan-bahan kimia yang terkandung di dalam sabun tersebut, yang bisa saja malah membuat kulit Si Kecil menimbulkan iritasi atau gangguan kulit lainnya. Maka itu, sebelum membeli sabun bayi, ada baiknya Moms memperhatikan panduan dalam memilih sabun bayi berikut ini.

  • Kondisi kulit bayi. Pertama-tama, perhatikan dan pahami kondisi kulit bayi Anda, Moms. Kebanyakan, bayi memang lahir dengan kondisi kulit yang sehat. Karena itu, penggunaan produk sabun bayi untuk kulit sensitif seharusnya sealami mungkin. Beda halnya apabila bayi memiliki kondisi kulit khusus, seperti eksim. Ada baiknya, dikonsultasikan terlebih dulu dengan dokter spesialis agar mendapat penanganan yang tepat. 
  • Sabun formulasi khusus untuk bayi. Karena kulit bayi berbeda dengan kulit anak-anak dan orang dewasa, pastikan pilih sabun yang memang diformulasikan khusus untuk kulit bayi. Harusnya, sabun untuk bayi menggunakan pembersih yang lembut dan dapat melindungi keseimbangan alami kulit sekaligus mempertahankan lapisan pelindung luar kulit Si Kecil.
  • Bahan Alami. Pastikan, bahan-bahan yang terkandung di dalam sabun merupakan bahan yang alami, seperti berasal dari minyak nabati. Contohnya adalah minyak zaitun, minyak almond alami, minyak alpukat, minyak biji bunga matahari, cocoa butter, atau ekstrak bunga chamomile.
  • Mengandung Gliserin. Gliserin cukup aman Moms untuk bayi. Sebabnya, kandungan gliserin malah dapat melembapkan kulit Si Kecil sehingga mencegah kulitnya dari iritasi dan kering.
     
    cara memilih sabun bayi

    Sebelum membeli sabun bayi, ada baiknya Moms memperhatikan panduan dalam memilih sabun bayi untuk kulit sensitif

  •  

  • Kandungan pH Sabun. Biasanya, dalam label produk perawatan bayi, termasuk sabun, terdapat keterangan “pH neutral” atau “pH balanced”. Keterangan tentang skala pH sangat penting, Moms, sebagai  cara untuk mengukur tingkat keasaman dan kebasaan suatu zat. Dalam beberapa minggu setelah bayi lahir, permukaan kulitnya akan berubah dari mendekati pH netral menjadi pH yang sedikit asam.
     
    Nah, carilah sabun dengan kandungan pH yang netral atau yang memiliki pH serupa dengan kulit bayi (sekitar pH 5.5) sehingga tidak bersifat basa atau asam. Kandungan pH yang netral pada sabun sangatlah dianjurkan agar lapisan acid mantle pada permukaan kulit bayi tidak terganggu. Acid mantle pada kulit bayi ini berfungsi sebagai penghalang  untuk melindungi kulit bayi dari bakteri.
  • Hindari Sabun Bayi dengan Pewangi/Pengharum. Mencium sesuatu yang harum dan manis memang menyenangkan ya, Moms. Namun dalam hal produk perawatan bayi, penggunaan sabun bayi dengan pewangi/pengharum bukanlah ide yang terbaik. Perlu diketahui Moms, wewangian merupakan bahan kimia. Apabila kulit bayi yang sensitif terpapar bahan kimia, dapat memicu iritasi dan kulit jadi kering, serta memicu reaksi alergi.
  • Bebas Alkohol. Hindari sabun yang mengandung alkohol karena kandungan alkohol dapat membuat kulit bayi yang sensitif menjadi kering, bahkan bisa menimbulkan iritasi pada kulit bayi. Baca dengan saksama bahan-bahan yang terkandung dalam label sabun bayi ya, Moms. Biasanya kandungan alkohol disebutkan dengan nama lain, seperti etanol, ethyl alcohol, cetearyl alcohol, cetostearyl alcohol.
  • Hindari Sabun Antibakteri dan Antimikroba. Sebaiknya hindari sabun bayi yang dilabeli dengan keterangan antibakteri atau antimikroba. Sebab, kandungan bahan antibakteri biasanya tidak ditambahkan dalam sabun atau produk yang diformulasikan secara khusus untuk bayi. Kandungan ini malah justru berisiko menimbulkan iritasi dan kering pada kulit bayi, Moms.
  • Bahan Kimia Berbahaya. Antara lain seperti paraben (bahan kimia yang biasa digunakan sebagai pengawet dalam kosmetik); phthalates (bahan kimia yang biasa ditemukan dalam plastik); pewarna, dan sulfat (yang biasa ditemukan pada pembersih rumah tangga). Bahan kimia ini dapat membuat kulit bayi iritasi, bahkan bisa membahayakan bagi bayi. Sebuah studi menemukan bahwa phthalates dan paraben berpotensi mengubah kadar hormon dalam tubuh yang dapat mengganggu perkembangan yang normal.
  • Hypoallergenic. Sabun bayi dengan formula hypoallergenic diartikan apabila sabun ini diaplikasikan ke kulit bayi, kecenderungan bisa memicu reaksi alergi atau iritasi pada kulitnya lebih kecil.

Baca Juga: Manfaat Baby Cream untuk Kulit Bayi

Rekomendasi Sabun Bayi untuk Kulit Sensitif

Moms jadi tak perlu bingung lagi nih dalam memilih sabun bayi untuk kulit sensitif. Sebabnya, ada satu produk sabun bayi yang sudah mencakup semua panduan di atas, yaitu Cussons Baby Sensicare Gentle Hair & Body Wash.

sabun bayi

Cussons Baby Sensicare Gentle Hair & Body Wash merupakan sabun bayi yang secara khusus diformulasikan untuk kulit bayi yang baru lahir dan sensitif

Produk pembersih dari rangkaian Cussons Baby Sensicare ini memang secara khusus diformulasikan untuk kulit bayi yang baru lahir dan sensitif. Bahkan pembersih ini diperuntukkan bagi kulit bayi yang rentan eksim sekalipun, Moms. Sebabnya, produk yang bisa digunakan sebagai sabun ini sudah teruji secara dermatologi dan diterima oleh dokter anak, serta hypoallergenic.

Moms juga tak perlu khawatir lagi saat membersihkan tubuh dan wajah Si Kecil ketika mandi karena Cussons Baby Sensicare Gentle Hair & Body Wash diformulasikan dengan Triple Protection Complex. Tiga kunci rahasia dalam Cussons Baby Sensicare Gentle Hair & Body Wash yang merupakan kombinasi bahan-bahan alami, yaitu organic oat, olive oil, dan ceramide.

Tiga bahan alami inilah yang membantu melindungi dan memperbaiki kulit bayi secara alami. Secara khusus, organic oat berfungsi untuk mengunci kelembapan pada kulit bayi. Organic olive oil berguna untuk menjaga kelembapan alami kulit secara intens. Kelembapan kulit bayi pun akan tetap terjaga hingga 24 jam sehingga melindungi kulit dari kekeringan. Sementara ceramide dapat membantu memperkuat fungsi pelindung kulit buah hati Anda. Moms juga jangan cemas karena pembersih yang ekstra lembut ini mengandung pH yang seimbang dan bebas paraben.

 

 

TAGS: 

Artikel Lainnya

10 Cara Pilih Sabun Bayi Untuk Kulit Sensitif

10 Cara Pilih Sabun Bayi Untuk Kulit Sensitif

Mandi bisa menjadi salah satu cara untuk merawat kulit bayi agar tetap sehat. Selain itu, penting juga dalam memilih produk perlengkapan mandi, seperti sabun, yang memang dapat mendukung kesehatan kulit Si Kecil. Meski begitu, mungkin Moms sempat merasa bingung dalam...

Penyebab dan Tipe Ruam Pada Bayi

Penyebab dan Tipe Ruam Pada Bayi

Ruam pada bayi banyak penyebabnya dan tipenya pun bermacam-macam. Meski begitu, Moms tak perlu khawatir karena permasalahan ruam biasanya dapat dengan mudah diatasi. Nah, kenali dulu yuk, Moms, tentang ruam pada bayi dan tipe-tipenya berikut ini. Ruam merupakan...

Alergi Pada Bayi: Apa Yang Perlu Diwaspadai?

Alergi Pada Bayi: Apa Yang Perlu Diwaspadai?

Alergi pada bayi bisa beragam pemicu dan gejalanya. Apabila bayi Anda mengalami ruam dan kulitnya tidak lembut lagi seperti kulit bayi lainnya atau bayi Anda sering bersin, bisa jadi hal ini adalah tanda-tanda alergi pada si Kecil. Nah, pelajari tentang alergi pada...

Penyebab dan Tipe Ruam Pada Bayi

Penyebab dan Tipe Ruam Pada Bayi

Ruam pada bayi banyak penyebabnya dan tipenya pun bermacam-macam. Meski begitu, Moms tak perlu khawatir karena permasalahan ruam biasanya dapat dengan mudah diatasi. Nah, kenali dulu yuk, Moms, tentang ruam pada bayi dan tipe-tipenya berikut ini.

Ruam merupakan perubahan yang terjadi pada kulit karena iritasi atau peradangan. Biasanya perubahan yang terjadi adalah warna, penampakan, dan tekstur kulit si bayi. Biasanya kulit akan cenderung merah, bersisik, berminyak, hingga berjerawat, tergantung dari tipe ruam yang dialami bayi. Ruam seringkali membuat bayi merasa tidak nyaman dan bikin rewel, bahkan bisa membuat Si Kecil merasa kesakitan.

Moms tak perlu khawatir karena kondisi ruam cenderung dapat hilang dengan sendirinya. Selain itu, ruam sangat jarang terjadi sebagai kondisi yang darurat. Penyakit kulit pada bayi ini masih bisa diatasi dan diobati, bahkan dapat dicegah dan dirawat di rumah.

Meski begitu, Moms harus tetap waspada karena ruam bisa juga mengindikasikan penyakit yang lebih serius. Maka itu, cari tahu berbagai tipe dan cara mengatasi ruam pada bayi dalam penjelasan di bawah ini.

 

Penyebab Ruam pada Bayi

Kenapa muncul ruam pada bayi? Bayi yang baru lahir memiliki kulit yang sensitif. Sistem kekebalan tubuhnya juga masih dalam perkembangan. Hal-hal ini membuat kulitnya rentan terhadap berbagai sumber iritasi atau infeksi yang menjadi penyebab ruam.

Selain itu, dalam empat minggu pertama masa kehidupan bayi, akan ada beberapa perubahan yang terjadi pada kulit si Kecil. Beberapa jenis ruam yang berbeda bisa berkembang dan dialami Si Kecil pada tahun pertama kehidupannya. Nah, beberapa penyebab terjadinya ruam adalah panas, alergi, gesekan, kelembapan, bahan-bahan kimia, pengharum, kain.

penyebab ruam

Ruam pada bayi bisa terjadi di sebagian tubuh atau dapat memengaruhi seluruh tubuh.

Bahkan feses si Kecil pun dapat menjadi penyebab kulitnya teriritasi sehingga menimbulkan ruam pada kulit. Infeksi dari virus dan bakteri pun bisa menjadi penyebab ruam, Moms. Sementara itu, ruam juga dapat terjadi di bagian tubuh mana saja, tergantung dari tipe atau jenis ruam yang dialaminya. Bisa terjadi hanya di sebagian tubuh atau dapat memengaruhi seluruh tubuh. Antara lain di kulit wajah, leher, dada bagian atas, lengan, tangan, kaki, kulit di sekitar area popok, dan lipatan-lipatan kulitnya.

 

Berbagai Tipe Ruam pada Bayi

Berikut ini beberapa tipe ruam yang umum terjadi pada bayi, penyebab, dan cara mengatasinya.

  • Ruam Popok. Ruam yang terjadi di sekitar area popok (kulit bokong, paha, selangkangan, dan kelamin). Penyebabnya karena kontak yang lama dengan urin atau feses yang membuat bayi merasa tidak nyaman. Moms bisa mengatasinya dengan mengoleskan area kulit tersebut dengan krim atau salep khusus setiap kali mengganti popok.
     
    Moms juga bisa mencegah ruam muncul kembali dengan sering-sering mengganti popoknya agar area popok tetap terjaga kebersihan dan kekeringannya. Atau, sesekali biarkan bayi Anda tidak menggunakan popok agar kulit area popok mendapat sirkulasi udara.
kulit kepala bayi

Cradle cap adalah salah satu tipe ruam yang muncul di kulit kepala bayi.

  • Cradle Cap. Tipe ruam pada bayi ini muncul di kulit kepala si Kecil dengan penampakan bercak dan sisik tebal, berwarna kuning, berkerak, atau berminyak, tetapi tidak menimbulkan gatal. Cradle cap juga dapat muncul di area wajah, telinga, leher, dan area sekitar popok. Biasanya terjadi pada bayi yang baru lahir.
     
    Cradle cap ini dapat hilang sendiri dalam beberapa bulan. Moms dapat merawatnya dengan membersihkan kepala dan rambut Si Kecil dengan sampo yang lembut. Bersihkan bercak-bercak tebal dengan sikat berbulu lembut. Untuk kerak dan sisik yang membandel, oleskan petroleum jelly atau minyak mineral, lalu keramaskan rambut dan kepalanya hingga bersih.

 Baca Juga: Cradle Cap: Penyebab Ketombe Pada Bayi

  • Milia. Ruam dengan penampakan bintil-bintil kecil berwarna putih yang muncul di hidung, dagu, atau pipi akibat pori-pori yang tersumbat keratin. Biasanya, milia muncul pada kulit bayi yang baru dilahirkan dan dapat hilang dalam beberapa minggu. Moms hanya tinggal merawatnya dengan membersihkan wajah Si Kecil sekali sehari dengan air dan sabun yang lembut. Hindari penggunaan losion atau produk wajah berminyak.
  •  

  • Jerawat bayi. Jerawat pada bayi tampak seperti benjolan merah dan putih di dahi atau pipinya. Biasanya terjadi ketika ia berusia satu bulan setelah lahir. The American Academy of Dermatology Association (AAD) menyebutkan, jerawat dapat memengaruhi sekitar 20% bayi baru lahir. Kemungkinan, hal ini terjadi karena terpapar hormon ibu selama kehamilan.
     
    Namun, jerawat bayi ini biasanya hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu, jadi tak perlu diobati. Moms, dapat melakukan perawatan dengan membasuh wajah Si Kecil sekali sehari dengan air dan sabun yang lembut.
  •  

  • Heat rash/biang keringat/keringat buntet. Penampakan tipe ruam pada bayi ini adalah bintik-bintik kecil dan halus dan kulit akan berwarna merah. Ruam ini dapat muncul selama cuaca panas dan lembap, salah satunya karena pakaian yang tebal. Maka itu, ruam ini disebut pula dengan istilah ruam panas. Cara mengatasi jenis ruam jenis seperti ini dengan memindahkan si Kecil ke lingkungan yang lebih sejuk, memandikan Si Kecil, atau mengenakan pakaian yang ringan, sejuk, dan longgar agar sirkulasi udara ke kulit tubuh Si Kecil jadi lancar.
biang keringat bayi

Agar terhindar dari ruam biang keringat/heat rash, kenakan pakaian yang longgar dengan bahan pakaian yang nyaman

  • Eksim. Menurut The American Academy of Dermatology Association (AAD), sekitar 60% individu mengalami eksim pada tahun pertama kehidupannya. Eksim ini dikenal juga dengan dermatitis atopik. Hal ini ditandai dengan kulit yang kering, bercak-bercak, bersisik, dan terasa gatal. Bahkan, bercak-bercak di kulitnya dapat menebal dan mengeras sehingga kulit menjadi kasar.
     
    Dalam beberapa kasus, ruam akan meningkat, menjadi bintik kecil yang bergelembung dan mengeluarkan cairan. Terkadang pula kulit menjadi infeksi. Ruam ini biasa ditemukan di bagian tubuh seperti wajah, belakang lutut, dan lengan.
     
    Nah, Moms dapat meringankan gejala eksim ini dengan menghindari suhu atau cuaca yang ekstrem, mandikan bayi setiap hari kedua atau ketiga, bukan setiap hari. Lalu keringkan kulitnya secara perlahan dengan tepukan yang lembut. Hindari juga makanan-makanan yang bisa memicu eksim. Oleskan krim kortikosteroid atau salep pelembap eksim. Gunakan pula produk-produk yang diformulasikan khusus untuk bayi dan tanpa pewangi.
  •  

     Baca Juga: Apa Itu Eksim, Penyebab Eksim, dan Cara Mengobati

     

  • Biduran atau urtikaria. Kondisi kulit dengan ruam merah yang menonjol, seperti bentol, dan gatal di bagian wajah, tangan, kaki, dan kelamin. Biduran dipicu dari alergi makanan, infeksi virus atau bakteri, gigitan serangga, faktor lingkungan, kontak dengan iritan, atau kondisi autoimunnya sedang melemah. Atasi biduran ini dengan memandikannya pakai air dingin (tidak terlalu dingin atau hangat) dan memberi losion atau krim yang mengandung calamine. Obat antihistamin juga dapat meringankan gejala gatal.
  •  

  • Infeksi. Kulit yang terinfeksi juga dapat menimbulkan ruam. Sebagai contoh, impetigo atau penyakit infeksi karena bakteri. Tanda-tandanya luka lecet, lepuh membentuk kerak tebal berwarna cokelat kekuningan di sekitar mulut atau hidung. Ada pula bayi yang memiliki penyakit tangan, kaki, dan mulut karena infeksi virus. Tandanya muncul bintik-bintik di jari, telapak tangan, dan telapak kaki. Pada penyakit tangan, kaki, dan mulut, akan muncul lepuh di mulut, jari tangan, telapak tangan, telapak kaki atau bokong. Bahkan beberapa bayi mengalami demam.
     
    Kedua penyakit ini dapat sembuh tanpa pengobatan. Namun untuk impetigo, biasanya dokter merekomendasikan penggunaan antibiotik topikal. Sementara untuk penyakit kaki, mulut, dan tangan, bayi membutuhkan waktu lebih dari 10 hari untuk sembuh. Kedua penyakit tersebut merupakan penyakit menular sehingga penting sekali untuk membatasi dan mencegah kontak dengan orang lain agar tidak menular.

 

Perlukah ke Dokter?

Ruam pada bayi memang bisa diatasi dengan perawatan di rumah. Namun, Moms perlu berhati-hati apabila ruam bayi tak kunjung sembuh, kemudian disertai dengan beberapa gejala lain. Apabila ada tanda-tanda seperti di bawah ini, sebaiknya bawa langsung bayi Anda ke klinik atau rumah sakit terdekat untuk ditangani oleh dokter.

mengobati ruam

Apabila bayi Anda mengalami gejala ruam dan tak kunjung reda, serta diikuti dengan demam, sebaiknya bawa langsung ke dokter, Moms.

  • Ketika bayi Anda mengalami ruam, kemudian diikuti dengan demam, bisa jadi ruam yang dialami Si Kecil terjadi infeksi.
  • Ruam yang dialami Si Kecil terjadi selama berminggu-minggu. Ruamnya tak kunjung mereda meskipun sudah dilakukan perawatan dan pengobatan di rumah. Bahkan makin membuat Si Kecil merasa nyeri sakit atau iritasi.
  • Ketika gejala ruam bayi Anda telah meluas. Tak hanya ruam kemerahan di kulit, tetapi juga mengalami gatal-gatal, terutama di sekitar mulut. Atau, rasa gatal yang disertai dengan batuk, muntah, mengi, atau gejala pernapasan lainnya. Hal ini bisa saja menjadi reaksi alergi serius yang disebut anafilaksis.
  • Ciri-ciri ketika bayi dalam kondisi darurat adalah ruam yang tak kunjung reda disertai dengan demam tinggi, leher kaku, sensitif pada cahaya, perubahan pada neurologis atau guncangan yang tidak dapat dikendalikan, tangan dan kaki juga terasa dingin yang tidak biasa. Gejala – gejala ini bisa menjadi tanda si Kecil mengalami meningitis.

 

 

 

TAGS: 

Artikel Lainnya

10 Cara Pilih Sabun Bayi Untuk Kulit Sensitif

10 Cara Pilih Sabun Bayi Untuk Kulit Sensitif

Mandi bisa menjadi salah satu cara untuk merawat kulit bayi agar tetap sehat. Selain itu, penting juga dalam memilih produk perlengkapan mandi, seperti sabun, yang memang dapat mendukung kesehatan kulit Si Kecil. Meski begitu, mungkin Moms sempat merasa bingung dalam...

Penyebab dan Tipe Ruam Pada Bayi

Penyebab dan Tipe Ruam Pada Bayi

Ruam pada bayi banyak penyebabnya dan tipenya pun bermacam-macam. Meski begitu, Moms tak perlu khawatir karena permasalahan ruam biasanya dapat dengan mudah diatasi. Nah, kenali dulu yuk, Moms, tentang ruam pada bayi dan tipe-tipenya berikut ini. Ruam merupakan...

Alergi Pada Bayi: Apa Yang Perlu Diwaspadai?

Alergi Pada Bayi: Apa Yang Perlu Diwaspadai?

Alergi pada bayi bisa beragam pemicu dan gejalanya. Apabila bayi Anda mengalami ruam dan kulitnya tidak lembut lagi seperti kulit bayi lainnya atau bayi Anda sering bersin, bisa jadi hal ini adalah tanda-tanda alergi pada si Kecil. Nah, pelajari tentang alergi pada...

Alergi Pada Bayi: Apa Yang Perlu Diwaspadai?

Alergi Pada Bayi: Apa Yang Perlu Diwaspadai?

Alergi pada bayi bisa beragam pemicu dan gejalanya. Apabila bayi Anda mengalami ruam dan kulitnya tidak lembut lagi seperti kulit bayi lainnya atau bayi Anda sering bersin, bisa jadi hal ini adalah tanda-tanda alergi pada si Kecil. Nah, pelajari tentang alergi pada bayi berikut ini yuk, Moms!

Alergi adalah kondisi yang umum dialami bayi dan anak-anak. Alergi merupakan reaksi yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh terpapar pada benda-benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Tubuh pun merespon dengan memproduksi antibodi berjenis immunoglobulin E (IgE), yang diprogram untuk melindungi tubuh dari bakteri, virus, dan alergen. Namun ketika antibodi ini diproduksi secara berlebihan, tubuh pun akan bereaksi pada alergen dengan menunjukkan peradangan dan pembengkakan. Hal ini dapat memicu terjadinya alergi.

 

Bisakah Bayi Alami Alergi?

Reaksi alergi pada bayi bisa terjadi karena berbagai alasan, Moms. Penyebabnya memang belum jelas. Meski begitu, perlu diingat bahwa bayi merupakan individu yang baru mengenal dunia. Karena itu, Si Kecil masih harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan berbagai hal di sekelilingnya, termasuk makanannya.

Selain itu, daya tahan tubuhnya juga masih lemah dan belum sempurna sehingga Si Kecil rentan terkena alergi. Riwayat kesehatan di dalam keluarga juga bisa berperan penting. Sebabnya, kecenderungan alergi adalah keturunan. Jadi, jika Moms dan Dads memiliki riwayat, bisa saja menurunkan sifat alergi tersebut atau mengembangkan alergi yang lain kepada si Kecil.

 

Gejala Umum Alergi

Ada beberapa gejala alergi yang paling umum terjadi. Apabila Si Kecil mengalami gejala – gejala berikut ini, ia akan merasa tidak nyaman dan rewel.

gatal gejala alergi

Gatal-gatal menjadi salah satu tanda alergi pada bayi.

  • Gatal – gatal
  • Pembengkakan
  • Ruam kemerahan
  • Gejala hidung berair seperti pilek
  • Kesulitan dalam bernapas
  • Masalah pencernaan

Mungkin sebagian dari Anda, Moms, tak menyadari gejala-gejala di atas merupakan gejala alergi. Namun, jika Moms memperkirakan gejala tersebut merupakan alergi, sebaiknya hindari alergen yang jadi pemicunya.

 

Beragam Jenis Alergi Pada Bayi

Nah, untuk lebih mengenal lagi tentang alergi, Moms perlu tahu berbagai jenis alergi berikut. Ada banyak alergi pada bayi yang lebih spesifik. Namun pada dasarnya, alergi terbagi menjadi tiga kategori berikut ini.

  1. Alergi Makanan dan Obat-obatan.

Makanan merupakan penyebab alergi paling umum terjadi pada bayi. Menurut American Academy of Allergy, Asthma, & Immunology, sekitar 6 persen anak-anak usia di bawah 2 tahun mengalami alergi makanan. Reaksi yang terkait makanan ini dimulai ketika Si Kecil mengenal makanan padat atau makanan pendamping ASI, yaitu sekitar 4—6 bulan. Meski begitu, ASI atau susu formula juga bisa menimbulkan alergi pada sebagian bayi, Moms. Karena itu, penting sekali bagi Moms untuk memperhatikan asupan makanan yang Anda konsumsi sendiri.

bayi alergi susu

Susu merupakan salah satu jenis makanan yang menjadi pemicu alergi makanan pada bayi.

Bayi dan balita bisa mengalami alergi pada jenis makanan apa saja. Reaksi alerginya pun bisa disebabkan dari satu jenis makanan saja atau bahkan lebih. Di Amerika Serikat, ada 8 jenis makanan yang menjadi pemicu alergi. Antara lain adalah susu, telur, kacang, tree nuts (seperti almond, walnut, kacang mete), kedelai, gandum, ikan, dan kerang. Sementara itu yang menjadi pemicu alergi obat, salah satunya adalah pemberian antibiotik ketika bayi sakit. Beberapa obat lain yang dijual bebas pun juga bisa memicu alergi, Moms.

Baca Juga: Alergi Dingin: Ciri – Ciri, Penyebab, dan Cara Mengobati

Biasanya, gejala alergi makanan bisa langsung muncul beberapa menit atau jam setelah mengonsumsi makanan/obat-obatan yang menjadi pemicu alergi. Gejalanya bisa ringan atau bahkan bisa mengancam kehidupan Si Kecil. Umumnya gejala yang tampak adalah ruam, gatal-gatal, mengi, hingga kesulitan bernapas.

Beberapa tanda alergi obat, seperti ruam, mungkin tidak muncul selama beberapa hari. Sementara itu, alergi makanan juga bisa mengalami tanda-tanda berikut: sakit perut, batuk, diare, gatal-gatal dan ruam pada kulit, mual dan muntah. Si Kecil juga bisa mengalami gejala ruam kemerahan di sekitar mulut, di beberapa kasus lidah dan mulut membengkak, hidung berair dan tersumbat seperti pilek, bagian wajah, lengan, dan kaki ikut membengkak. Gejala yang berat dan serius, serta dapat mengancam kehidupan bayi akibat alergi makanan adalah kondisi anafilaksis. Namun hal ini sangat jarang terjadi pada bayi.

  1. Alergi Lingkungan.

Alergi lingkungan merupakan jenis alergi karena kulit bayi menyentuh atau menghirup benda-benda asing di sekitarnya. Apalagi ketika Si Kecil sudah mulai aktif bermain di dalam ruangan ataupun luar ruangan, sekitar usia 18 bulan.

Benda-benda asing tersebut misalnya kandungan deterjen yang ada pada pakaian atau sesuatu yang terhirup, seperti debu. Bulu hewan peliharaan (anjing atau kucing), jamur, tungau, serbuk sari, sengatan/gigitan serangga, dan hal-hal lain yang ada di sekitar lingkungan bisa memicu gejala. Sampo, sabun, deterjen, dan produk pembersih lain yang sejenis juga merupakan pemicu alergi, seperti dermatitis kontak.

Gejala alergi pada bayi yang timbul adalah mata merah dan gatal, bersin, batuk, mengi (bengek), hidung berair seperti pilek, dan dadak sesak. Meski begitu, gejala alergi ini tidak biasa terjadi pada bayi. Gejala-gejala lainnya gatal-gatal, ruam, dan binti-bintil kecil yang gatal di kulit apabila terpapar dengan alergen atau sesuatu yang sensitif.

  1. Alergi Musiman.

Alergi musiman biasanya merupakan masalah alergi pada bayi dalam musim tertentu di sepanjang tahun atau lokasi tertentu. Kecenderungannya, alergen berasal dari luar ruangan, seperti dari pohon dan tanaman lain yang tumbuh di daerah tersebut. Namun biasanya yang paling menonjol adalah pada musim semi ketika jumlah serbuk sari sedang tinggi-tingginya.

Gejala yang dialami bayi adalah bersin-bersin, mata gatal, berair dan membengkak, batuk, dan hidung berair. Si Kecil juga bisa mengalami sakit pada telinga, bahkan hingga alami infeksi telinga. Apabila bayi Anda mengalami gejala-gejala seperti ini dalam setahun pada musim tertentu, bisa jadi Si Kecil mengalami alergi musiman, Moms.

Baca Juga: Manfaat Baby Cream untuk Kulit Bayi

Gejala Serius Alergi pada Bayi

Gejala yang berat dan serius, serta dapat mengancam kehidupan bayi akibat alergi adalah kondisi anafilaksis. Ini merupakan kondisi syok, yaitu ketika tekanan darah menurun secara drastis dan saluran udara menyempit sehingga kesulitan bernapas. Tanda-tandanya adalah mata, bibir, dan wajah membengkak, ruam, kulit pucat, terasa mual, muntah, kepala pusing, kesulitan bernapas, hingga tidak sadarkan diri/pingsan. Jika kondisi bayi Anda seperti ini, langsung segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang tepat dari tenaga medis atau dokter.

 

Meminimalisir Alergi pada Bayi

Untuk mendapatkan penanganan yang tepat dalam mengatasi alergi pada bayi, sebaiknya Moms konsultasikan terlebih dulu dengan dokter mengenai gejala-gejala yang ada. Bisa juga dilakukan pemeriksaan atau tes khusus, seperti tes kulit, tes darah, atau tes makanan. Hanya saja, hasil dari pemeriksaan atau tes ini agak sulit disimpulkan karena sistem kekebalan tubuh bayi belum terbentuk dengan baik.

mencegah alergi pada bayi

Bersihkan kasur dan mainan Si Kecil secara berkala untuk menghindari debu yang dapat menyebabkan alergi pada bayi

Oleh karena itu, yang dapat Moms lakukan untuk mengatasinya adalah dengan meminimalisir risiko, yaitu menghindari alergen yang menjadi pemicu alergi. Di antaranya seperti berikut ini.

  • Membersihkan kasur dan bantal Si Kecil secara berkala, lalu tutupi kasur dan bantal dengan seprai dan sarung bantal antitungau.
  • Bersihkan secara berkala benda-benda yang dapat menyimpan debu, seperti kasur, karpet, mainan, dengan vacuum.
  • Hindari Si Kecil dari hewan peliharaan, seperti anjing dan kucing, yang ada di rumah.
  • Ganti produk pembersih yang biasa dengan produk pembersih yang mengandung hypoallergenic.
  • Mengatur pola makan, baik pola makan Anda sendiri apabila Si Kecil masih menyusui maupun bayi Anda ketika ia sudah diperkenalkan makanan padat.
  • Perkenalkan jenis makanan baru pada bayi secara perlahan. Misalnya, pada minggu pertama diperkenalkan dengan telur. Jika tidak ada reaksi alergi pada bayi Anda, mulai kenalkan dengan makanan yang lain.
  • Perhatikan cuaca dan musim di wilayah Anda, Moms. Jika Si Kecil memiliki alergi musiman, kurangi bermain di luar ruangan saat musim tertentu yang memicu timbulnya alergi.
  • Hindari penggunaan sampo, sabun, deterjen yang menggunakan pewangi.
  • Janganlah merokok dekat dengan si bayi.

 

Mengobati Alergi pada Bayi

cara mengobati alergi

Konsultasikan terlebih dulu dengan dokter apabila ingin memberikan pengobatan untuk mengatasi alergi pada bayi

Sementara itu untuk pengobatan, obat yang diberikan tergantung pada jenis alerginya dan gejala yang timbul. Berikut beberapa pengobatan yang bisa dilakukan, Moms.

  • Berikan obat antihistamin untuk mengurangi reaksi alergi. Meskipun antihistamin merupakan obat yang umum untuk mengatasi alergi, namun tidak direkomendasikan untuk anak-anak usia di bawah 2 tahun. Jadi, perlu dikonsultasikan dulu dengan dokter ya, Moms.
  • Krim hidrokortison juga dapat membantu meringankan gejala-gejala alergi yang muncul di permukaan kulit, seperti ruam karena alergi. Namun, hal ini juga perlu dikonsultasikan dulu dengan dokter, Moms. Baca juga petunjuk di setiap kemasan krim hidrokortison sebelum digunakan.
  • Pemberian inhaler ketika bayi mengalami kesulitan bernapas akibat alergi dengan petunjuk/resep dari dokter.

Untuk mengatasi gejala anafilaksis yang merupakan reaksi alergi yang parah, biasanya dokter akan memberi injeksi atau suntikan EpiPen/hormon adrenalin. Suntikan ini mudah diberikan melalui kulit bayi.

 

 

TAGS: 

Artikel Lainnya

10 Cara Pilih Sabun Bayi Untuk Kulit Sensitif

10 Cara Pilih Sabun Bayi Untuk Kulit Sensitif

Mandi bisa menjadi salah satu cara untuk merawat kulit bayi agar tetap sehat. Selain itu, penting juga dalam memilih produk perlengkapan mandi, seperti sabun, yang memang dapat mendukung kesehatan kulit Si Kecil. Meski begitu, mungkin Moms sempat merasa bingung dalam...

Penyebab dan Tipe Ruam Pada Bayi

Penyebab dan Tipe Ruam Pada Bayi

Ruam pada bayi banyak penyebabnya dan tipenya pun bermacam-macam. Meski begitu, Moms tak perlu khawatir karena permasalahan ruam biasanya dapat dengan mudah diatasi. Nah, kenali dulu yuk, Moms, tentang ruam pada bayi dan tipe-tipenya berikut ini. Ruam merupakan...

Alergi Pada Bayi: Apa Yang Perlu Diwaspadai?

Alergi Pada Bayi: Apa Yang Perlu Diwaspadai?

Alergi pada bayi bisa beragam pemicu dan gejalanya. Apabila bayi Anda mengalami ruam dan kulitnya tidak lembut lagi seperti kulit bayi lainnya atau bayi Anda sering bersin, bisa jadi hal ini adalah tanda-tanda alergi pada si Kecil. Nah, pelajari tentang alergi pada...

3 Jenis Keringat Buntet dan Penyebab Yang Perlu Moms Ketahui

3 Jenis Keringat Buntet dan Penyebab Yang Perlu Moms Ketahui

Moms pasti sering mendengar istilah “keringat buntet”. Istilah ini memang sering terucap ketika kita melihat bagian tubuh anak-anak yang mengalami bintik-bintik kecil kemerahan. Biasanya keringat muncul di bagian dahi, punggung, atau dada. Kenapa biang keringat bisa timbul? Simak penjelasan berikut ini, Moms!

Keringat buntet disebut juga biang keringat. Sebutan lainnya adalah heat rash, prickly heat, atau miliaria (ruam panas). Keringat buntet merupakan salah satu permasalahan kulit yang sering dialami bayi dan juga anak-anak balita. Meski begitu, kondisi ini adalah hal yang umum, tidak berbahaya, dan tidak menular.

 

Penyebab Keringat Buntet

Biang keringat sering terjadi ketika lingkungan sekitar berada pada kondisi suhu yang panas dan lembap. Tidak heran, keringat pada bayi dan balita di Indonesia menjadi kondisi yang umum terjadi karena tinggal di wilayah tropis. Ditambah pula jika lingkungan sekitar tidak ada sirkulasi udara.

Bisa juga karena pakaian Si Kecil terlalu ketat, tidur dengan selimut yang tebal, atau ia mengalami demam sehingga menyebabkan produksi keringat lebih banyak. Nah, ketika Si Kecil terlalu banyak memproduksi keringat, namun keringat tidak dapat dikeluarkan dengan baik, timbullah keringat buntet, Moms.

Biang keringat ini disebabkan saluran kelenjar keringat di kulit tersumbat karena sel-sel kulit yang mati atau bakteri. Keringat pun tidak dapat dikeluarkan sehingga membuat kulit iritasi dan kemerahan. Apalagi kelenjar keringat dan pori-pori kulit bayi belum berkembang dengan sempurna sehingga proses penyerapan dan pengeluaran keringat belum optimal. Hal ini membuat keringat terperangkap di bawah kulit. Selain itu, bayi juga belum dapat mengontrol suhu tubuhnya dengan baik seperti orang dewasa atau anak-anak yang usianya sudah besar. Itulah mengapa, keringat  buntet sering ditemukan pada bayi, Moms.

 

Gejala Keringat Buntet

Saat biang keringat terjadi, area kulit akan muncul ruam, bintik-bintik kecil kemerahan atau biasa disebut lenting yang berisi air. Area kulit tersebut akan terasa seperti perih, menusuk, dan menyengat karena kepanasan dan sangat gatal. Kondisi iritasi seperti ini membuat Si Kecil sangat tidak nyaman dan rewel. Si Kecil juga bisa mengalami kesulitan tidur dari biasanya karena rasa ketidaknyamanan tersebut.

keringat buntet pada bayi

Keringat buntet bisa membuat bayi rewel karena ia merasa tidak nyaman.

Bagian tubuh yang biasa terkena keringat buntet biasanya di bagian tubuh yang tertutup pakaian. Antara lain adalah bagian punggung, perut, leher, dada bagian  atas, selangkangan, dan ketiak. Pada bayi, biang keringat sering terjadi di bagian wajah dan lipatan tubuhnya seperti lipatan leher, lengan, ketiak, siku, dan selangkangan. Biasanya kondisi ini dapat membaik beberapa hari setelah kulit Si Kecil mendingin.

 

Tipe Keringat Buntet

Biang keringat ada yang ringan, bahkan ada yang parah. Nah, berikut ini terdapat tiga tipe keringat buntet. Tipe miliaria kristalina dan miliaria rubra adalah jenis yang paling umum dialami bayi.

1. Miliaria kristalina

Merupakan tipe yang paling ringan dan umum terjadi. Keringat buntet yang terjadi di permukaan kulit paling atas ini paling sering dialami oleh bayi yang baru lahir.

Gejalanya tampak ada bintil-bintil kecil bening atau putih yang berisi cairan di permukaan kulit seperti butiran-butiran keringat. Nah, bintil-bintil kecil yang mudah pecah ini biasanya menyebar di area kepala, leher, dan dada bagian atas. Meski begitu, jenis ini tidak menimbulkan peradangan, rasa gatal, atau rasa sakit.

2. Miliaria rubra

Jenis yang satu ini dialami oleh bayi yang berusia 1—3 minggu. Biasanya terjadi ketika udara lingkungan sekitar yang panas dan lembap.

Biang keringat ini terjadi karena kelenjar keringat tersumbat di lapisan kulit bagian dalam epidermis dan dermis atas. Hal ini memicu reaksi peradangan sehingga timbul ruam dan bintil-bintil kemerahan yang dikenal dengan rubra. Keringat ini menyebabkan rasa gatal, nyeri, dan menyengat yang membuat Si Kecil menggaruk-garuk area kulit yang terkena miliaria rubra itu.

Jika miliaria rubra ini semakin meradang, lalu timbul bintil-bintil merah yang berisi nanah (pustule), kemudian berubah warnanya menjadi putih atau kuning. Ini tandanya sudah mengalami infeksi, Moms. Jenis ini disebut dengan miliaria pustulosa, yang merupakan lanjutan dari miliaria rubra.

3. Miliaria profunda

adalah jenis yang sangat jarang terjadi pada bayi dan balita. Jenis ini paling sering dialami oleh individu yang sudah mengalami miliaria rubra beberapa kali. Bisa juga karena ia sering terpapar iklim yang hangat atau tropis.

Keringat buntet ini terjadi di dermis, lapisan kulit yang paling dalam. Penampakan gejala miliaria profunda ketika di bagian dada ada bintil merah yang lebih besar dengan diameter 1—3 mm dan keras, serta berwarna merah seperti daging. Tipe ini dapat menyebabkan mual dan pusing.

 

Perawatan untuk Mengatasi Keringat Buntet

Biasanya, keringat buntet dapat menghilang dengan sendirinya tanpa perawatan apa pun. Meski begitu, Moms dapat melakukan beberapa hal di rumah untuk meredakan peradangan yang terjadi pada kulit Si Kecil berikut ini:

mengobati keringat buntet

Berendam atau mandi dengan air dingin dapat meredakan gejala keringat buntet pada bayi.

  • Pindahkan bayi ke tempat yang lebih sejuk dan teduh ketika gejala-gejala sudah mulai tampak. Hindari tempat-tempat yang suhunya panas dan lembap.
  • Menjaga agar kulit bayi yang tetap sejuk/dingin dan kering. Caranya dengan mendinginkan tubuh di dalam ruangan yang ber-AC atau kipas angin.
  • Untuk menenangkan kulit yang iritasi, bisa juga mengompres area dengan kain yang lembap atau air dingin. Atau, berendam dan mandi air dingin agar tubuhnya tetap terasa sejuk.
  • Bilas minyak dan keringat di tubuhnya, terutama di bagian-bagian lipatan tubuh, dengan air dingin dan sabun yang lembut. Keringkan dengan menepuk-nepuk secara perlahan dan lembut di area keringat si Kecil.
  • Menggunakan pakaian yang longgar dan bahan pakaian yang ringan agar pakaian tidak menggesek kulit bayi dan sirkulasi udara lebih lancar.
  • Biarkan kulit tubuhnya terpapar dan tersikulasi udara yang sejuk dengan melepaskan pakaiannya untuk sementara.
  • Pastikan bayi mendapatkan ASI yang cukup agar terhidrasi dengan baik. ASI juga baik untuk meredakan peradangan atau berfungsi sebagai antiinflamasi sehingga dapat mempercepat kesembuhannya.
  • Hindari penggunaan minyak seperti telon, losion penghilang gatal, dan bedak pada bayi, kecuali jika direkomendasikan oleh dokter. Sebab, keringat buntet bukanlah reaksi alergi dan kulit yang mengering. Justru penggunaan jenis produk ini dapat menghambat pori-pori kulit sehingga memicu iritasi dan biang keringat.

 

Baca Juga: Cara Mengatasi Biang Keringat pada Bayi

 

Kapan Harus Kunjungi Dokter?

Moms, perlu mewaspadai keringat buntet yang dialami Si Kecil. Apabila gejalanya tidak kunjung membaik selama beberapa hari dan malah semakin parah, sebaiknya kunjungi dokter.

Perhatikan, apakah ada bintil-bintil merah yang bernanah dan membengkak atau tidak. Hal ini bisa jadi gejala yang ditimbulkan akibat infeksi jamur atau bakteri ketika bayi Anda terlalu sering menggaruknya. Apalagi jika disertai dengan tubuh bayi yang demam dan menggigil. Segeralah ke dokter untuk ditangani lebih lanjut.

Untuk pengobatan, dokter biasanya akan merekomendasikan penggunaan losion calamine, krim hidrokortison, dan minum tablet antihistamin untuk meredakan peradangan dan rasa gatal. Bayi juga diberikan lanolin anhidrat agar penyumbatan kelenjar keringat dapat dicegah. Dosis penggunaan tentunya disesuaikan dengan kondisi si bayi.

 

 

 

TAGS:

Artikel Lainnya

10 Cara Pilih Sabun Bayi Untuk Kulit Sensitif

10 Cara Pilih Sabun Bayi Untuk Kulit Sensitif

Mandi bisa menjadi salah satu cara untuk merawat kulit bayi agar tetap sehat. Selain itu, penting juga dalam memilih produk perlengkapan mandi, seperti sabun, yang memang dapat mendukung kesehatan kulit Si Kecil. Meski begitu, mungkin Moms sempat merasa bingung dalam...

Penyebab dan Tipe Ruam Pada Bayi

Penyebab dan Tipe Ruam Pada Bayi

Ruam pada bayi banyak penyebabnya dan tipenya pun bermacam-macam. Meski begitu, Moms tak perlu khawatir karena permasalahan ruam biasanya dapat dengan mudah diatasi. Nah, kenali dulu yuk, Moms, tentang ruam pada bayi dan tipe-tipenya berikut ini. Ruam merupakan...

Alergi Pada Bayi: Apa Yang Perlu Diwaspadai?

Alergi Pada Bayi: Apa Yang Perlu Diwaspadai?

Alergi pada bayi bisa beragam pemicu dan gejalanya. Apabila bayi Anda mengalami ruam dan kulitnya tidak lembut lagi seperti kulit bayi lainnya atau bayi Anda sering bersin, bisa jadi hal ini adalah tanda-tanda alergi pada si Kecil. Nah, pelajari tentang alergi pada...

Apa Itu pH (Power of Hydrogen)? Pentingnya pH Pada Kulit?

Apa Itu pH (Power of Hydrogen)? Pentingnya pH Pada Kulit?

Kulit tubuh memiliki kadar pH. Keseimbangan kadar pH kulit tubuh sangatlah penting untuk dijaga. Namun, mengapa kadar pH kulit perlu seimbang? Yuk, kenali lebih jauh tentang pH, keterkaitan antara pH dengan kulit, dan cara menjaganya, berikut ini!

Kulit merupakan perlindungan tubuh paling terluar. Peran kulit sangat penting untuk melindungi tubuh dari berbagai paparan zat-zat asing yang masuk ke dalam tubuh. Nah, agar kulit selalu sehat, menjaga keseimbangan pH kulit sangatlah penting.

 

Apa Itu pH?

Dalam bidang kimia, pH merupakan singkatan dari potential of hydrogen atau power of hydrogen. Istilah ini digunakan untuk mengukur tingkat keasaman atau kebasaan (alkalinitas) dari larutan.

Istilah pH ini menerjemahkan nilai konsentrasi ion hidrogen ke dalam bentuk urutan angka 0 sampai 14. Larutan yang mengandung pH lebih rendah atau nilainya kurang dari angka 7 cenderung bersifat asam. Lalu, apabila larutan yang memiliki pH lebih tinggi atau nilainya lebih dari angka 7 cenderung sifatnya alkali atau basa. Sementara angka 7 dikategorikan sebagai netral.

skala ph kulit

Skala pH yang menunjukkan asam dan basa/alkali

Pertama kalinya, konsep pH ini diperkenalkan oleh seorang ahli biokimia asal Denmark bernama Søren Peder Lauritz Sørensen pada tahun 1909. Dalam beberapa bidang keilmuan, terutama yang berkaitan pada kehidupan atau industri bidang kimia, pengukuran nilai pH sangat penting. Bidang keilmuan tersebut adalah bidang biologi, kemudian kimia, bidang kedokteran, pada dunia pertanian, ilmu pangan, rekayasa (keteknikan), hingga bidang oseanografi. Meski begitu, bidang lingkup science atau teknologi lainnya juga menggunakan pengukuran nilai pH. Namun, frekuensi penggunaannya lebih rendah.

 

Pengaruh pH pada Kulit

Lantas, apa keterkaitannya antara pH dengan kulit? Tahukah Anda, kadar pH atau tingkat keasaman pada kulit sangat penting untuk menunjukkan kesehatan kulit. Kadar pH pada kulit sangat berperan dalam menjaga kondisi kulit.

Nilai keasaman kulit bervariasi, angkanya dimulai dari 1—14. Jika nilai pH berada pada angka 1—6, hal ini menunjukkan bahwa pH tergolong asam. Sementara pH netral berada pada angka 7. Lalu, angka 8—14 menunjukkan nilai pH tergolong basa. Idealnya, kadar pH kulit ada di angka 5.5 agar kulit dapat bekerja dengan optimal. Dengan begitu, kulit mampu mempertahankan fungsinya sebagai penghalang atau pelindung kulit.

Kunci pH dalam menjaga kondisi kulit ini berkaitan dengan acid mantle. Acid mantle merupakan lapisan pada permukaan kulit yang tipis, sangat halus, dan sedikit asam. Acid mantle terbentuk dari asam amino dan asam lemak yang terdapat di dalam keringat, serta sebum atau minyak yang keluar dari kulit. Lapisan ini memiliki fungsi untuk membantu mempertahankan kadar keasaman kulit dan sebagai skin barrier atau penghalang kulit. Ketika kulit mengeluarkan sebum dan melepaskan asam lemak, acid mantle bertanggung jawab agar kesehatan dan kelembapan kulit tetap terjaga.

Caranya dengan melawan mikroba berbahaya, seperti bakteri, virus, dan berbagai hal yang berasal dari lingkungan sekitar, seperti alergen, perubahan suhu, bahan kimia yang keras, dan polusi. Acid mantle juga dapat membantu merusak radikal bebas yang dapat meningkatkan proses penuaan. Agar keseimbangan pH tetap terjaga, idealnya acid mantle berada pada kadar pH 4.5—5.5.

 

Kadar pH Kulit Bayi dan Orang Dewasa Berbeda

Kadar pH kulit bayi dan orang dewasa ternyata berbeda. Saat bayi dilahirkan, bayi memiliki permukaan kulit yang alkali dengan pH lebih dari 6. Kemudian selama beberapa minggu dalam kehidupan bayi yang baru lahir, kulitnya cenderung memiliki pH yang asam di antara 5 dan 5.5. Kadar pH pada kulit bayi yang asam ini membantu mencegah berbagai penyakit serta mampu melawan penyebaran bakteri dan jamur.

kadar ph pada kulit

Kadar pH kulit bayi dan orang dewasa berbeda

Namun, acid mantle pada kulit bayi masih lemah dan belum terbentuk sempurna. Hal ini membuat kulit Si Kecil menjadi sensitif dan rentan terhadap benda-benda asing. Seiring dengan perkembangan usia dan hormon, pH pada kulit akan mengalami perubahan ketika Si Kecil mulai beranjak besar. Ketika usia dewasa, pH akan cenderung netral dengan berada di angka 7.

 

Kadar pH Bervariasi

Masing-masing area kulit di tubuh memiliki kadar pH yang bervariasi. Area permukaan kulit yang jarang terekspos seperti kulit bokong, ketiak, dan area kemaluan cenderung mempertahankan kadar pH atau tingkat keasaman yang alami.

Berbeda area permukaan kulit tubuh yang sering terekspos, seperti kulit wajah, dada, dan tangan, yang cenderung bersifat alkali/basa. Itu karena area permukaan kulit tersebut lebih banyak terpapar zat-zat dari lingkungan sekitar.

 

Faktor yang Mempengaruhi pH Kulit

Ada beberapa faktor lain yang dapat mempengaruhi pH kulit. Antara lain ada yang dari dalam tubuh maupun dari luar tubuh atau lingkungan sekitar.

  • Faktor usia
  • Keringat
  • Perubahan musim dengan suhu dan kelembapan yang berbeda
  • Debu dan polusi
  • Pola makan yang tidak tepat, seperti terlalu banyak kafein, gula, ragi, dan makanan junk food
  • Terlalu banyak terpapar sinar matahari
  • Produk kosmetik
  • Produk antibakteri
  • Deterjen
  • Bahan-bahan kimia
  • Kebiasaan perawatan kulit yang salah, seperti terlalu sering mencuci permukaan kulit, menggunakan pembersih kulit yang mengandung bahan keras, dan menggunakan sabun yang mengandung alkali tinggi

 

Kenapa Perlu Menjaga Keseimbangan pH Kulit?

Anjuran untuk menjaga keseimbangan pH ini seringkali terdengar. Mengapa hal ini penting sekali? Perlu diketahui bahwa ketika kadar pH pada kulit terjaga keseimbangannya, kelembapan dan kesehatan kulit pun akan tetap terjaga. Acid mantle sebagai lapisan pelindung kulit juga akan bekerja dengan optimal. Dengan begitu, kulit akan selalu sehat, segar, dan bercahaya.

Keseimbangan pH kulit terganggu apabila kadar pH terlalu asam atau terlalu alkali/basa. Bakteri baik di kulit yang melindungi kulit pun mengalami gangguan ketika pH pada kulit tidak seimbang. Ciri-ciri ketika keseimbangannya terganggu adalah produksi minyak di kulit berlebihan, memerah, ruam, kering, gatal, mengelupas. Muncul pula gangguan kulit seperti eksim, psoriasis, jerawat, dan tanda penuaan dini.

Baca Juga: Eksim Kering: Gejala, Jenis, dan Cara Mengobati

Ketika kadar pH kulit terlalu basa, keseimbangannya menjadi terganggu. Acid mantle yang menjadi pelindung kulit pun tak mampu melawan mikroba sehingga mikroba tersebut dapat masuk ke dalam kulit dan menyebabkan infeksi pada kulit. Kulit juga kehilangan air dan kelembapannya sehingga kulit menjadi sensitif, kering, dan mengelupas. Kulit pun akan menunjukkan penuaan dini seperti keriput dan kerutan di sekitar mata. Kondisi kulit seperti eksim, dermatitis, kontak iritan, juga dapat timbul.

Baca Juga: 5 Cara Melembabkan Kulit Wajah Kering

Sementara itu ketika pH kulit terlalu asam, kulit akan mengalami peradangan sehingga menyebabkan kulit jadi meradang, memerah, iritasi, gatal, dan terasa sakit saat disentuh. Hal ini akan memunculkan kondisi kulit seperti jerawat dan rosacea.

 

Keseimbangan pH Kulit Tetap Terjaga

Lantas, bagaimana mengembalikan keseimbangan pH kulit yang terganggu? Anda dapat melakukan beberapa hal berikut agar keseimbangannya terjaga. Menjaga keseimbangan pH dapat meminimalisir timbulnya gangguan pada kulit, seperti eksim, psoriasis, jerawat, kulit yang terlalu kering atau produksi minyak yang berlebihan.

ph kulit

Pilih produk perawatan kulit atau pelembap kulit yang mengandung pH seimbang dan bahan-bahan organik yang lembut di kulit

  • Ketahui kondisi kulit sendiri. Sebelum mengaplikasikan produk perawatan kulit, perhatikan kembali kondisi kulit, apakah terlalu kering atau berminyak.
  • Perbaiki pola makan dengan menerapkan pola makan yang sehat. Konsumsi sayur-sayuran hijau (seperti bayam dan kale), buah-buahan (seperti jeruk dan anggur) tomat,  wortel, bawang putih, kacang kedelai, dan cuka sari apel.
  • Gunakan produk pembersih yang lembut dan memiliki kadar pH yang seimbang. Artinya, produk tersebut memiliki kadar pH antara 4.5 hingga 6.
  • Jaga kelembapan kulit dengan menggunakan produk pelembab kulit dengan pH seimbang. Anda bisa memilih pelembab kulit dalam bentuk minyak, losion, gel, atau krim, yang sesuai dengan usia dan tipe kulit.
  • Pilih produk perawatan kulit yang lembut dengan bahan alami dan organik yang kaya akan vitamin, mineral, dan antioksidan.
  • Gunakan air hangat suam-suam kuku untuk mencuci wajah atau kulit.
  • Hindari produk pembersih dan sabun yang mengandung alkali tinggi.
  • Hindari bahan-bahan kimia dan racun yang dapat merusak kulit, sepertin deterjen, makeup, cairan pembersih, dan lainnya.

 

 

TAGS:

Artikel Lainnya

10 Cara Pilih Sabun Bayi Untuk Kulit Sensitif

10 Cara Pilih Sabun Bayi Untuk Kulit Sensitif

Mandi bisa menjadi salah satu cara untuk merawat kulit bayi agar tetap sehat. Selain itu, penting juga dalam memilih produk perlengkapan mandi, seperti sabun, yang memang dapat mendukung kesehatan kulit Si Kecil. Meski begitu, mungkin Moms sempat merasa bingung dalam...

Penyebab dan Tipe Ruam Pada Bayi

Penyebab dan Tipe Ruam Pada Bayi

Ruam pada bayi banyak penyebabnya dan tipenya pun bermacam-macam. Meski begitu, Moms tak perlu khawatir karena permasalahan ruam biasanya dapat dengan mudah diatasi. Nah, kenali dulu yuk, Moms, tentang ruam pada bayi dan tipe-tipenya berikut ini. Ruam merupakan...

Alergi Pada Bayi: Apa Yang Perlu Diwaspadai?

Alergi Pada Bayi: Apa Yang Perlu Diwaspadai?

Alergi pada bayi bisa beragam pemicu dan gejalanya. Apabila bayi Anda mengalami ruam dan kulitnya tidak lembut lagi seperti kulit bayi lainnya atau bayi Anda sering bersin, bisa jadi hal ini adalah tanda-tanda alergi pada si Kecil. Nah, pelajari tentang alergi pada...

SensiCare